CINTA YATIM: Hadirkan Harapan, Wujudkan Masa Depan yang Lebih Baik

Bersama CINTA YATIM, hadirkan santunan, sembako, dan beasiswa berkelanjutan untuk masa depan anak yatim.
Mengapa Bersyukur Dapat Mengubah Cara Otak Melihat Kehidupan? Ternyata Bukan Sekadar Perasaan

Mengapa Bersyukur Dapat Mengubah Cara Otak Melihat Kehidupan? Ternyata Bukan Sekadar Perasaan 31 Juli 2026 Dakwah/Inspiratif Mengapa bersyukur membuat hidup terasa lebih tenang? Simak penjelasan dari perspektif Al-Qur’an, psikologi, dan ilmu saraf tentang bagaimana rasa syukur mengubah cara otak memandang kehidupan. Mengapa Bersyukur Dapat Mengubah Cara Otak Melihat Kehidupan? Bayangkan ada dua orang yang menjalani hari dengan kondisi hampir sama. Mereka memiliki pekerjaan, keluarga, dan tantangan hidup yang tidak jauh berbeda. Namun, setiap sore salah satunya merasa hidupnya penuh kekurangan, sementara yang lain tetap mampu menemukan alasan untuk tersenyum. Apakah perbedaannya terletak pada jumlah harta? Belum tentu. Bisa jadi, perbedaannya ada pada cara otak mereka memproses realitas. Inilah yang menarik. Banyak orang menganggap bersyukur hanyalah respons setelah memperoleh nikmat. Padahal, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa rasa syukur justru mengubah cara seseorang memperhatikan, menafsirkan, dan mengingat pengalaman hidup. Dengan kata lain, syukur bukan hanya mengubah hati, tetapi juga mengubah “lensa” yang digunakan otak untuk melihat dunia. Otak Tidak Melihat Kehidupan Apa Adanya Ada sebuah fakta menarik dalam ilmu psikologi yang dikenal sebagai negativity bias. Otak manusia secara alami lebih peka terhadap ancaman, kekurangan, dan pengalaman negatif dibandingkan hal-hal yang menyenangkan. Dari sudut pandang evolusi, kemampuan ini membantu manusia bertahan hidup. Namun di era modern, mekanisme yang sama sering membuat seseorang lebih mudah mengingat kritik daripada pujian, lebih fokus pada kegagalan daripada pencapaian, atau lebih sibuk menghitung apa yang belum dimiliki dibandingkan mensyukuri apa yang sudah ada. Akibatnya, kehidupan terasa lebih berat daripada kenyataannya. Syukur bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak menghapus masalah, tetapi membantu otak menyeimbangkan perhatian sehingga tidak hanya terpaku pada kekurangan. Al-Qur’an Mengajarkan Bahwa Syukur Mengubah Kehidupan Jauh sebelum psikologi modern membahas manfaat rasa syukur, Al-Qur’an telah menjelaskan hubungan antara syukur dan perubahan hidup. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7) Ayat ini sering dipahami sebatas bertambahnya rezeki. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa tambahan nikmat dapat berupa ketenangan hati, keberkahan, kemudahan menjalani hidup, hingga kemampuan melihat karunia Allah yang sebelumnya luput disadari. Dengan kata lain, syukur bukan sekadar menambah apa yang dimiliki, tetapi juga mengubah cara seseorang memandang apa yang sudah dimilikinya. Mengapa Bersyukur Membuat Otak Lebih Tenang? Dalam psikologi positif, praktik bersyukur secara konsisten dikaitkan dengan meningkatnya kesejahteraan psikologis, emosi positif, kualitas tidur, serta kepuasan hidup. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa latihan syukur membantu mengurangi kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan hal-hal negatif (rumination). Hal ini terjadi karena ketika seseorang secara sadar mengingat nikmat yang dimiliki, perhatian otaknya bergeser. Fokus tidak lagi hanya tertuju pada apa yang hilang, melainkan juga pada apa yang masih dimiliki. Perubahan kecil dalam fokus tersebut dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, membangun hubungan, bahkan menghadapi kesulitan. Sudut Pandang yang Jarang Dibahas: Syukur Bukan Menambah Nikmat, tetapi Mengurangi “Kebutuhan Semu” Kebanyakan orang mengira syukur membuat Allah menambah sesuatu dari luar. Padahal, ada sisi lain yang jarang dibahas. Sering kali, penderitaan bukan muncul karena kurangnya nikmat, tetapi karena terus bertambahnya daftar keinginan.Ketika seseorang selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, otaknya akan terus menciptakan standar baru tentang apa yang dianggap “cukup”. Akibatnya, rasa puas menjadi semakin sulit dicapai. Syukur memutus siklus tersebut. Ia tidak selalu membuat seseorang memiliki lebih banyak, tetapi membuat seseorang merasa cukup dengan apa yang sudah ada. Dalam psikologi perilaku, kondisi ini membantu mengurangi efek hedonic treadmill, yaitu kecenderungan manusia untuk terus mengejar kepuasan baru tanpa pernah benar-benar merasa cukup. Inilah mengapa orang yang pandai bersyukur seringkali tampak lebih damai, meskipun hidupnya tidak selalu lebih mudah. Dari Syukur Lahir Kepedulian Menariknya Syukur yang sehat tidak berhenti pada ucapan Alhamdulillah. Ketika seseorang menyadari begitu banyak nikmat yang diterimanya, muncul kesadaran bahwa sebagian nikmat tersebut dapat menjadi jalan manfaat bagi orang lain. Rasa cukup melahirkan empati. Seseorang mulai melihat pakaian yang tidak lagi digunakan, buku yang hanya tersimpan di rak, atau perlengkapan rumah tangga yang masih layak sebagai peluang untuk berbagi, bukan sekadar barang yang memenuhi ruang. Di sinilah syukur berubah menjadi tindakan. Cara Melatih Otak agar Lebih Bersyukur Syukur bukan bakat, melainkan kebiasaan yang dapat dilatih. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain: meluangkan waktu setiap hari untuk mengingat tiga nikmat yang sering terlupakan mengurangi kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain di media sosial menggunakan nikmat yang dimiliki untuk memberi manfaat kepada sesamamengucapkan syukur bukan hanya ketika memperoleh keberhasilan, tetapi juga ketika mampu melewati kesulitan Semakin sering dilakukan, semakin mudah otak membangun pola pikir yang lebih positif dan realistis Ketika Syukur Menjadi Manfaat bagi Orang Lain Ada satu cara sederhana untuk menjaga rasa syukur tetap hidup, yaitu mengubah nikmat menjadi manfaat. Melalui program Donasi Barang yang dijalankan Yayasan Indonesia Uluran Tangan, barang-barang layak pakai yang sudah tidak digunakan dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Bukan karena barang tersebut sudah tidak berharga, melainkan karena nilainya justru bertambah ketika mampu membantu kehidupan orang lain. Berbagi dalam bentuk barang menjadi salah satu cara mensyukuri nikmat tanpa harus menunggu memiliki lebih banyak. Penutup Mungkin selama ini kita mengira hidup terasa berat karena terlalu sedikit nikmat yang dimiliki. Padahal, bisa jadi yang perlu diubah bukan jumlah nikmatnya, melainkan cara kita melihatnya. Syukur tidak menghapus ujian, tidak membuat semua masalah hilang dalam semalam, dan bukan jalan pintas menuju kehidupan tanpa kesulitan. Namun, syukur mengajarkan otak untuk tidak hanya melihat apa yang kurang, tetapi juga menyadari apa yang telah Allah titipkan. Dan ketika rasa syukur itu tumbuh, kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih tenang. Kita juga lebih mudah melihat kesempatan untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain. Barangkali, perubahan terbesar yang dibawa oleh syukur bukanlah bertambahnya harta, melainkan berubahnya cara kita memandang kehidupan. FAQ Apakah rasa syukur benar-benar memengaruhi cara kerja otak? Berbagai penelitian dalam psikologi positif menunjukkan bahwa praktik syukur dapat membantu mengarahkan perhatian pada pengalaman positif, mengurangi kecenderungan berpikir negatif secara berulang, serta meningkatkan kesejahteraan psikologis. Apa hubungan syukur dengan kesehatan mental? Rasa syukur membantu seseorang melihat kehidupan secara lebih seimbang. Meski bukan pengganti terapi atau pengobatan, kebiasaan bersyukur dikaitkan dengan meningkatnya emosi positif, kepuasan hidup, dan kualitas hubungan sosial. Bagaimana Islam memandang rasa syukur? Dalam Islam, syukur merupakan
Penyaluran Kursi Roda dan Selimut untuk Keluarga Dhuafa di Sunter Jaya: Ketika Satu Rumah Harus Saling Menopang di Tengah Sakit

Penyaluran Kursi Roda dan Selimut untuk Keluarga Dhuafa di Sunter Jaya: Ketika Satu Rumah Harus Saling Menopang di Tengah Sakit 28 Juli 2026 Bekasi BEKASI, (Ulurtangan.com) – Apa yang terjadi ketika seluruh anggota keluarga sama-sama membutuhkan pertolongan? Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi jawabannya sering kali menyimpan kenyataan yang tidak banyak terlihat. Di balik pintu sebuah rumah sederhana di Jalan Pohon Beringin RT 07/RW 03 No. 59, Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, terdapat sebuah keluarga yang setiap harinya saling bertahan, meski masing-masing sedang memikul ujian yang berat. Pada 28 Juli 2026, relawan Yayasan Indonesia Uluran Tangan hadir untuk menyalurkan satu kursi roda dan dua selimut kepada keluarga Bapak Sanib. Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi keluarga yang selama ini hanya mengandalkan uluran tangan tetangga, bantuan itu menjadi penopang harapan agar hari esok terasa sedikit lebih ringan. Bapak Sanib mengalami kelumpuhan sekitar satu bulan terakhir. Sebelum kondisi itu terjadi, beliau adalah sosok yang merawat putrinya, Ibu Erna, ketika sempat mengalami stroke hingga kesulitan berjalan. Seiring berjalannya waktu, kondisi Ibu Erna mulai membaik. Harapan untuk kembali bekerja pun mulai tumbuh. Namun, tak lama setelah itu, cobaan kembali datang. Kali ini, sang ayah yang justru mengalami kelumpuhan. Kini, peran dalam keluarga berubah secara drastis. Ibu Erna yang masih berada dalam masa pemulihan harus merawat ayahnya, sekaligus mengasuh putra laki-lakinya yang berusia 10 tahun. Ujian keluarga ini belum berhenti sampai di situ. Anak semata wayang Ibu Erna diketahui mengidap Thalasemia, penyakit keturunan yang memerlukan perhatian medis secara berkala. Sejak bayi, ia juga telah kehilangan sosok ayah karena sang ayah telah meninggal dunia. Dalam satu rumah, terdapat tiga orang dengan perjuangan yang berbeda-beda, tetapi saling bergantung satu sama lain. Relawan Yayasan Indonesia Uluran Tangan menyerahkan satu unit kursi roda untuk membantu mobilitas Bapak Sanib serta dua selimut agar keluarga memiliki perlindungan yang lebih layak selama menjalani masa pemulihan. Secara jumlah, bantuan yang disalurkan terdiri dari tiga item bantuan kepada keluarga penerima manfaat. Bagi sebagian orang, kursi roda hanyalah sebuah alat. Namun bagi keluarga ini, kursi roda berarti kesempatan bagi Bapak Sanib untuk berpindah tempat dengan lebih aman tanpa harus selalu mengandalkan tenaga orang lain. Begitu pula dengan selimut. Barang yang sering dianggap biasa ternyata dapat memberikan kenyamanan bagi anggota keluarga yang kondisi fisiknya sedang menurun. Bagi Ibu Erna dan Bapak Sanib, bantuan yang diterima bukan sekadar barang, tetapi juga menjadi penguat semangat di tengah ujian yang sedang mereka hadapi. Rasa syukur itu mereka sampaikan secara langsung kepada para donatur dan relawan yang telah hadir. “Saya berterima kasih kepada para donatur atas kursi rodanya dan kepada Yayasan Indonesia Uluran Tangan atas bantuan kursi rodanya. Semoga menjadi berkah dan bermanfaat untuk kami sekeluarga.” — Ibu Erna Ucapan serupa juga disampaikan oleh Bapak Sanib yang berharap kebaikan para donatur dibalas dengan keberkahan. “Terima kasih kepada Yayasan Indonesia Uluran Tangan atas kursi rodanya. Semoga semakin berkah untuk semuanya dan semoga yayasannya semakin maju.” — Bapak Sanib Al-Qur’an mengingatkan bahwa kebaikan bukan hanya tentang memberi dalam keadaan lapang, tetapi juga menghadirkan kepedulian kepada mereka yang sedang diuji. “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8) Ayat tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah bantuan tidak hanya diukur dari besar kecilnya, tetapi dari keikhlasan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, kepedulian sering kali diwujudkan melalui hal-hal sederhana yang mampu menjaga martabat penerimanya agar tetap dapat menjalani hidup dengan lebih baik. Ada satu kenyataan yang jarang dibahas, dalam banyak keluarga, orang yang paling berat bebannya bukan selalu mereka yang sedang terbaring sakit. Terkadang justru orang yang masih harus berdiri, memasak, mengantar berobat, mencari nafkah, sekaligus menenangkan anggota keluarga lainnya. Ibu Erna berada pada posisi itu, meski kesehatannya belum pulih sepenuhnya, ia tetap berharap suatu hari nanti dapat kembali bekerja apabila kondisi dirinya dan sang ayah membaik. Harapan sederhana itulah yang menjadi pengingat bahwa bantuan sosial tidak hanya meringankan beban hari ini, tetapi juga menjaga peluang agar sebuah keluarga dapat kembali mandiri di masa depan. Melalui berbagai program penyaluran bantuan, Yayasan Indonesia Uluran Tangan terus berupaya menjangkau keluarga-keluarga yang menghadapi kondisi serupa. Bantuan yang diberikan tidak selalu berupa kebutuhan besar. Sering kali, barang-barang yang tepat sasaran justru mampu menghadirkan perubahan nyata bagi penerimanya. Karena itu, setiap bentuk kepedulian masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan di berbagai daerah. Mereka tidak selalu meminta banyak. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah alat bantu, perlengkapan sederhana, atau kehadiran orang-orang yang bersedia peduli. Semoga penyaluran kursi roda dan dua selimut ini menjadi ikhtiar kecil yang membawa manfaat bagi Bapak Sanib, Ibu Erna, serta putranya. Dan semoga semakin banyak langkah kebaikan yang mampu menghadirkan harapan bagi keluarga-keluarga lain yang tengah berjuang menghadapi ujian hidup. —– 🏩 Yayasan Indonesia Uluran TanganLayanan Umat l Donasi Dakwah l Zakat | Infaq l Shodaqoh l Sosial Fisabililllah 📡 Saluran Whatsapp 🖥️ Facebook 📷 Instagram 💽 Youtube 📱 Info & Konfirmasi:╰┈➤ 0821.4000.4011 – 0811.50.5000.70 Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Ulurtangan.com (@ulurtangancom)
Sebelum Membakar Barang Tak Terpakai, Baca Fakta Ini Dulu: Asapnya Mungkin Hilang, Dampaknya Tidak

Sebelum Membakar Barang Tak Terpakai, Baca Fakta Ini Dulu: Asapnya Mungkin Hilang, Dampaknya Tidak 30 Juli 2026 Edukasi/Inspiratif Sebelum membakar barang tak terpakai, pahami dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan, dan masyarakat. Temukan alternatif yang lebih bermanfaat melalui donasi barang layak pakai. Sebelum Membakar Barang Tak Terpakai, Baca Fakta Ini Dulu Pernahkah Anda memperhatikan bahwa saat membersihkan gudang atau halaman rumah, pilihan yang paling sering muncul hanya dua: dibuang atau dibakar? Kebiasaan ini terasa praktis. Tumpukan barang memang hilang dalam hitungan menit. Namun, ada satu hal yang jarang kita sadari: yang benar-benar lenyap bukan hanya barangnya, melainkan juga manfaat yang mungkin masih bisa diberikan kepada orang lain. Inilah paradoks yang sering luput dari perhatian. Kita menganggap api sebagai cara tercepat mengakhiri “masa hidup” sebuah barang. Padahal, bagi sebagian orang, barang yang kita anggap tidak berguna bisa menjadi awal dari kesempatan baru. Bukan Sekadar Asap, Pembakaran Barang Menyisakan Dampak yang Tidak Terlihat Membakar barang tak terpakai bukan hanya menghasilkan abu. Berbagai jenis barang, terutama yang mengandung plastik, busa, karet, kain sintetis, hingga komponen elektronik, dapat melepaskan partikel halus dan zat kimia berbahaya ke udara saat dibakar. Paparan asap hasil pembakaran terbuka berpotensi mengganggu kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan. Yang membuatnya lebih berbahaya, sebagian polutan tersebut tidak selalu terlihat oleh mata. Artinya, ketika tumpukan barang telah habis terbakar, persoalannya belum benar-benar selesai. Sebagian dampaknya justru baru mulai menyebar ke lingkungan sekitar. Masalah Sebenarnya Bukan Barangnya, tetapi Cara Kita Mengakhiri Nilai Manfaatnya Ada satu sudut pandang yang jarang dibahas ketika berbicara tentang barang tak terpakai. Kita sering mengukur nilai sebuah barang dari seberapa sering kita menggunakannya. Begitu tidak lagi dipakai, kita menganggap nilainya selesai. Padahal, nilai sosial sebuah barang tidak berakhir ketika pemiliknya berhenti menggunakannya. Nilai itu baru benar-benar berakhir ketika barang tersebut tidak lagi bisa dimanfaatkan oleh siapa pun. Sebuah kursi belajar yang tidak terpakai di satu rumah mungkin sedang sangat dibutuhkan di rumah lain. Laptop lama yang hanya tersimpan di lemari bisa menjadi alat belajar bagi seorang mahasiswa. Peralatan usaha yang berdebu di gudang dapat membantu seseorang memulai kembali mata pencahariannya. Dengan kata lain, membakar barang yang masih layak pakai bukan hanya menghilangkan benda, tetapi juga menghilangkan peluang manfaat. Islam Mengajarkan Agar Harta Tidak Berhenti Memberi Manfaat Dalam Islam, setiap nikmat yang Allah SWT titipkan kepada manusia mengandung tanggung jawab untuk dimanfaatkan dengan baik. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56) Ayat ini mengingatkan pentingnya menjaga bumi dari tindakan yang menimbulkan kerusakan, termasuk perilaku yang dapat memperburuk kualitas lingkungan apabila masih ada alternatif yang lebih baik. Selain itu, Allah SWT juga berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92) Ayat tersebut menunjukkan bahwa nilai suatu harta bukan hanya terletak pada kepemilikannya, tetapi pada manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.Ada Alternatif yang Lebih Baik daripada Membakar Tidak semua barang harus disimpan. Namun, tidak semua barang yang tidak dipakai juga harus dimusnahkan. Jika kondisinya masih layak, berbagai barang berikut dapat dimanfaatkan kembali: pakaian dan sepatubuku bacaan perlengkapan sekolahtas perlengkapan bayialat kesehatanfurnitur peralatan rumah tangga alat elektronik yang masih berfungsi alat kerja atau perlengkapan usaha. Melalui donasi barang, barang-barang tersebut memperoleh “kehidupan kedua”. Bukan lagi menjadi penghuni gudang, melainkan kembali menjalankan fungsi utamanya: membantu manusia. Donasi Barang: Solusi yang Baik bagi Lingkungan dan Masyarakat Banyak orang mengira donasi barang hanya berkaitan dengan kegiatan sosial. Padahal manfaatnya jauh lebih luas. Saat barang digunakan kembali, kita turut menerapkan prinsip ekonomi sirkular, yaitu memperpanjang masa pakai barang melalui konsep reuse. Langkah sederhana ini membantu mengurangi limbah sekaligus mengurangi kebutuhan memproduksi barang baru yang memerlukan energi dan sumber daya alam. Di sisi lain, penerima memperoleh manfaat nyata. Anak-anak dapat belajar dengan perlengkapan yang lebih memadai. Keluarga prasejahtera dapat menghemat pengeluaran. Pelaku usaha kecil mungkin memperoleh alat yang mendukung produktivitas mereka. Satu barang dapat menghasilkan manfaat yang jauh lebih besar daripada nilai jualnya. Ketika Barang Berpindah Tangan, Harapan Ikut Berpindah Ada perbedaan besar antara barang yang dibakar dan barang yang didonasikan.Barang yang dibakar berhenti memberikan manfaat dalam hitungan menit. Sebaliknya, barang yang didonasikan dapat terus digunakan selama bertahun-tahun. Bahkan, manfaatnya sering kali melahirkan manfaat berikutnya. Sebuah meja belajar dapat membantu seorang anak menyelesaikan pendidikan. Peralatan kerja dapat membuka peluang penghasilan. Buku bacaan dapat menginspirasi banyak pembaca baru Inilah bentuk investasi sosial yang sering kali tidak kita sadari. Peran Yayasan Indonesia Uluran Tangan Agar barang layak pakai benar-benar sampai kepada orang yang membutuhkan, diperlukan proses yang terencana. Barang perlu diseleksi, dipilah berdasarkan kategori, diperiksa kelayakannya, lalu didistribusikan sesuai kebutuhan masyarakat. Melalui program Sedekah Barang, Yayasan Indonesia Uluran Tangan membantu menjembatani proses tersebut. Barang yang diterima tidak sekadar dikumpulkan, tetapi diupayakan agar dapat memberikan manfaat nyata bagi keluarga prasejahtera, lembaga pendidikan, pesantren, maupun komunitas yang membutuhkan. Pendekatan ini membuat setiap donasi memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan dampak sosial sekaligus mengurangi limbah yang tidak perlu. Penutup Api memang mampu menghilangkan barang dalam waktu singkat. Namun, ia juga dapat menghapus kesempatan yang mungkin sedang dibutuhkan orang lain.Sebelum memutuskan membakar barang yang sudah lama tersimpan, cobalah berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Apakah barang ini benar-benar sudah tidak memiliki nilai, atau hanya tidak lagi berguna bagi saya? Sering kali, jawabannya bukan berada di dalam gudang kita, melainkan di rumah seseorang yang sedang membutuhkan. Jika Anda memiliki barang yang masih layak pakai, pertimbangkan untuk menyalurkannya melalui lembaga sosial terpercaya seperti Yayasan Indonesia Uluran Tangan. Mungkin barang itu sudah selesai menjalankan fungsinya di rumah Anda, tetapi belum selesai menjalankan manfaatnya bagi kehidupan orang lain. FAQ Apakah membakar barang tak terpakai berbahaya bagi kesehatan? Ya. Pembakaran terbuka, terutama pada barang berbahan plastik, karet, kain sintetis, atau elektronik, dapat menghasilkan polutan yang menurunkan kualitas udara dan berpotensi berdampak pada kesehatan. Barang apa saja yang sebaiknya tidak dibakar? Barang berbahan plastik, busa, karet, tekstil sintetis, kabel, elektronik, baterai, dan berbagai material yang dapat menghasilkan asap beracun sebaiknya tidak dibakar. Apa alternatif terbaik selain membakar barang? Jika masih layak digunakan, barang dapat didonasikan, digunakan
157 Anak Kampung Pemulung Bogor Butuh Ruang Belajar Layak

Bantu 157 anak keluarga pemulung di Bogor mempertahankan ruang belajar mereka melalui sedekah barang dan donasi terbaik.
Peduli Yatim & Lansia Dhuafa: Bantuan Rutin Paket Sembako dan Santunan Tunai

Bantu yatim dan lansia dhuafa melalui paket sembako dan santunan tunai rutin bersama Yayasan Indonesia Uluran Tangan.
Bantu Pak Ihsan, Tunanetra yang Berjuang Mencari Nafkah Halal Sambil Melawan Sakit

Di saat banyak orang menganggap keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti, Pak Ihsan justru menjadikannya alasan untuk terus berjuang. Ia adalah penyandang disabilitas tunanetra, seorang terapis pijat yang setiap hari berusaha mencari nafkah halal demi menghidupi ibunda yang telah lanjut usia dan putra kecilnya yang sebentar lagi memasuki taman kanak-kanak.
Peran Donasi Barang dalam Mengurangi Ketimpangan Sosial: Mengapa Barang yang Terlalu Lama Disimpan Justru Kehilangan Nilai Sosialnya?

Peran Donasi Barang dalam Mengurangi Ketimpangan Sosial: Mengapa Barang yang Terlalu Lama Disimpan Justru Kehilangan Nilai Sosialnya? 29 Juli 2026 Dakwah/Inspiratif Donasi barang bukan sekadar cara mengurangi barang di rumah. Pelajari bagaimana berbagi barang layak pakai mampu mengurangi ketimpangan sosial, mendukung ekonomi sirkular, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.Pernahkah Anda berpikir bahwa sebuah jaket yang sudah dua tahun tergantung di lemari sebenarnya sedang kehilangan kesempatan untuk menghangatkan seseorang? Bukan karena kualitasnya menurun. Bukan pula karena modelnya sudah ketinggalan zaman. Namun karena setiap hari barang itu disimpan, ada peluang manfaat yang ikut tertunda. Kita sering menganggap barang yang tidak dipakai sebagai aset pribadi, padahal dalam waktu yang sama, ada orang lain yang justru membutuhkan barang tersebut untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari. Inilah sudut pandang yang jarang dibahas ketika berbicara tentang donasi barang. Persoalannya bukan semata-mata berapa banyak barang yang kita miliki, melainkan berapa lama manfaat sebuah barang tertahan sebelum akhirnya sampai kepada orang yang tepat. Ketimpangan Sosial Tidak Selalu Berawal dari Kekurangan, tetapi dari Distribusi yang Tidak Merata Ketika mendengar istilah ketimpangan sosial, banyak orang langsung membayangkan kesenjangan pendapatan. Padahal, ketimpangan juga muncul ketika akses terhadap kebutuhan dasar tidak tersebar secara merata. Di satu sisi, sebuah keluarga memiliki tiga kipas angin yang hanya satu digunakan. Di sisi lain, ada keluarga yang harus menghadapi cuaca panas tanpa memiliki satu pun. Ada rak buku yang dipenuhi bacaan berkualitas, sementara anak-anak di tempat lain belajar dengan sumber belajar yang sangat terbatas. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalannya sering kali bukan jumlah barang yang tersedia, melainkan bagaimana barang-barang tersebut dapat berpindah kepada orang yang benar-benar membutuhkannya. Di sinilah sedekah barang menjadi salah satu solusi sederhana yang mampu mempersempit jarak antara kelebihan dan kekurangan. Islam Mengajarkan Agar Harta Terus Memberikan Manfaat Al-Qur’an mengingatkan bahwa kebajikan tidak hanya diukur dari apa yang dimiliki, tetapi juga dari apa yang rela diberikan. “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92) Ayat ini tidak membatasi infak hanya dalam bentuk uang. Barang yang masih layak pakai juga merupakan bagian dari harta yang memiliki nilai manfaat. Rasulullah SAW juga bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, dinilai hasan oleh sebagian ulama) Hadis tersebut mengajarkan bahwa nilai sebuah kepemilikan bukan hanya pada siapa yang memilikinya, tetapi sejauh mana keberadaannya menghadirkan manfaat bagi sesama. Mengapa Donasi Barang Mampu Mengurangi Ketimpangan Sosial? Banyak kebutuhan masyarakat sebenarnya dapat dipenuhi melalui barang yang sudah tersedia di rumah-rumah kita. Pakaian layak pakai membantu mengurangi pengeluaran keluarga prasejahtera. Buku dan perlengkapan sekolah membuka kesempatan belajar yang lebih baik bagi anak-anak. Laptop bekas yang masih berfungsi dapat menjadi sarana mencari pekerjaan atau mengikuti pembelajaran daring. Bahkan peralatan usaha sederhana mampu membantu seseorang memulai kembali sumber penghasilannya. Yang menarik, manfaat tersebut tidak berhenti pada penerima pertama. Barang yang digunakan untuk belajar dapat meningkatkan peluang memperoleh pendidikan lebih baik. Alat usaha dapat menghasilkan pendapatan baru. Furnitur atau peralatan rumah tangga membantu keluarga mengalokasikan penghasilannya untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak. Artinya, dampak donasi sering kali berkembang jauh melampaui nilai ekonominya. Barang yang Digunakan Lebih Bernilai daripada Barang yang Disimpan Ada satu konsep menarik dalam ilmu perilaku yang disebut endowment effect. Manusia cenderung menilai barang miliknya lebih tinggi hanya karena merasa memilikinya, meskipun barang tersebut sudah lama tidak digunakan. Akibatnya, kita sering menyimpan barang “untuk berjaga-jaga”, tetapi bertahun-tahun kemudian barang itu tetap tidak pernah dipakai. Padahal, dari perspektif sosial, barang yang digunakan oleh orang lain memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan barang yang hanya memenuhi ruang penyimpanan. Semakin lama sebuah barang tidak dimanfaatkan, semakin besar pula manfaat sosial yang hilang. Donasi Barang Juga Menjaga Lingkungan Selain membantu sesama, berbagi barang layak pakai merupakan bagian dari penerapan konsep ekonomi sirkular. Prinsip reduce, reuse, dan recycle mendorong masyarakat memperpanjang usia pakai suatu barang sehingga tidak langsung berakhir sebagai limbah. Ketika pakaian, furnitur, atau peralatan elektronik masih dapat digunakan kembali, kebutuhan produksi barang baru pun berkurang. Dampaknya bukan hanya pada pengurangan sampah, tetapi juga pada penggunaan energi, air, dan bahan baku yang lebih efisien. Dengan kata lain, satu tindakan sederhana dapat memberikan manfaat sosial sekaligus manfaat lingkungan. Barang Apa Saja yang Bisa Didonasikan? Hampir semua barang yang masih layak pakai dapat menjadi sumber manfaat bagi orang lain, seperti: pakaian dan sepatutas buku bacaan perlengkapan sekolah perlengkapan bayi alat kesehatan alat elektronik yang masih berfungsi furniture alat kerja perlengkapan rumah tangga sepeda hingga mainan edukatif. Yang terpenting, pastikan barang masih bersih, aman, dan layak digunakan. Memberikan barang terbaik yang masih kita miliki merupakan bentuk penghormatan kepada penerimanya. Peran Lembaga Sosial dalam Menjaga Amanah Donasi Agar manfaat donasi benar-benar sampai kepada yang membutuhkan, diperlukan proses yang tidak sederhana. Barang perlu dikumpulkan, disortir, diperiksa kondisinya, dikategorikan, lalu disalurkan sesuai kebutuhan masyarakat. Inilah peran yang dijalankan oleh lembaga sosial seperti Yayasan Indonesia Uluran Tangan. Melalui program donasi barang, setiap barang layak pakai yang diterima akan melalui proses seleksi sebelum disalurkan kepada keluarga prasejahtera, lembaga pendidikan, pesantren, maupun komunitas yang membutuhkan. Pendekatan ini memastikan bahwa barang tidak sekadar berpindah tangan, tetapi benar-benar menghadirkan manfaat yang tepat sasaran. Penutup Ketimpangan sosial tidak selalu dapat diselesaikan melalui langkah besar. Terkadang, perubahan justru dimulai dari keputusan sederhana: mengeluarkan barang yang sudah lama tersimpan agar kembali menjalankan fungsi terbaiknya. Mungkin ada tas yang dapat menemani seorang pelajar menggapai cita-citanya. Ada meja belajar yang kembali digunakan untuk menuntut ilmu. Atau ada alat kerja yang menjadi awal bangkitnya sebuah keluarga. Barang yang kita anggap biasa, bisa menjadi sesuatu yang luar biasa ketika berada di tangan yang tepat. Jika hari ini Anda menemukan barang layak pakai yang sudah tidak lagi digunakan, mungkin itu bukan pertanda untuk membeli lemari yang lebih besar. Bisa jadi, itu adalah kesempatan untuk mengurangi ketimpangan sosial melalui langkah sederhana yang manfaatnya terus mengalir. FAQ Apakah donasi barang benar-benar membantu mengurangi ketimpangan sosial? Ya. Donasi barang membantu memperluas akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar, pendidikan, perlengkapan kerja, dan kebutuhan rumah tangga tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan. Barang seperti apa yang layak didonasikan? Barang yang masih bersih, berfungsi dengan baik, aman digunakan, dan masih memiliki nilai manfaat, seperti pakaian, buku,
Amanah Donatur Tersalurkan untuk Saudara Kita yang Berjuang di Jalan

Amanah Donatur Tersalurkan untuk Saudara Kita yang Berjuang di Jalan 24 Juli 2026 Kota.Bekasi BEKASI, (Ulurtangan.com) – Di setiap sudut jalan, ada banyak saudara kita yang mengawali hari dengan harapan sederhana: mendapatkan rezeki yang halal untuk dibawa pulang kepada keluarga. Mereka tetap bekerja tanpa mengenal lelah, meski panas terik maupun hujan menemani langkahnya. Di balik perjuangan itu, terkadang ada rasa lapar yang harus ditahan dan kelelahan yang dipendam demi memenuhi kebutuhan hidup. Alhamdulillah, pada 24 Juli 2026, Yayasan Indonesia Uluran Tangan kembali menggelar program Jumat Berkah dengan menyalurkan paket makanan dan minuman kepada para pejuang nafkah di berbagai titik di wilayah Bekasi. Melalui amanah dari para donatur, kami berharap setiap paket yang dibagikan tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menjadi penyemangat bagi mereka yang sedang berjuang mencari rezeki halal. Sejak pagi, dua relawan Yayasan Indonesia Uluran Tangan memulai rangkaian kegiatan dengan membeli paket makanan yang akan dibagikan. Setelah seluruh kebutuhan tersedia, makanan dan minuman disusun serta dirapikan agar siap disalurkan kepada para penerima manfaat. Setiap paket yang kami siapkan merupakan amanah dari para sahabat kebaikan. Karena itu, kami berusaha memastikan semuanya tersusun dengan baik sebelum memulai perjalanan menyusuri jalanan Kota Bekasi. Perjalanan pun dimulai. Kami menyusuri berbagai ruas jalan, gang, hingga sudut-sudut kota untuk mencari saudara-saudara yang masih bekerja mencari nafkah. Alhamdulillah, kami bertemu dengan para pemulung yang sedang mendorong gerobaknya, tukang becak yang menunggu penumpang, tukang rongsok yang berkeliling dari rumah ke rumah, serta masyarakat yang membutuhkan. Satu per satu paket makanan dan minuman kami serahkan secara langsung. Meskipun bantuan yang diberikan sederhana, senyum dan rasa syukur yang terpancar dari wajah mereka menjadi hadiah yang begitu berharga bagi kami. Salah satu momen yang paling menyentuh terjadi ketika kami bertemu seorang tukang rongsok yang baru saja selesai berkeliling sejak pagi. Beliau menerima paket makanan dengan wajah penuh haru, lalu mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, “Terima kasih donatur, banyak rezekinya, sehat badannya, panjang umurnya, biar berkah.” Doa yang tulus itu membuat kami kembali menyadari bahwa setiap sedekah yang dititipkan para donatur tidak hanya menghadirkan makanan, tetapi juga menghadirkan harapan dan kebahagiaan bagi mereka yang sedang berjuang. Di setiap pelaksanaan Jumat Berkah, kami selalu belajar bahwa berbagi bukanlah tentang seberapa besar yang diberikan, melainkan tentang kepedulian untuk hadir di tengah saudara-saudara kita yang membutuhkan. Sebungkus makanan mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seseorang yang belum sempat makan sejak pagi, bantuan itu dapat menjadi penyemangat untuk melanjutkan perjuangannya. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim) Allah SWT juga berfirman: “Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba’: 39) Dalil tersebut menjadi pengingat bahwa setiap harta yang disedekahkan di jalan Allah tidak akan sia-sia. Justru Allah SWT menjanjikan keberkahan dan balasan yang lebih baik bagi hamba-hamba-Nya yang gemar berbagi. Alhamdulillah, program Jumat Berkah kembali menjadi jembatan kebaikan antara para donatur dan masyarakat yang membutuhkan. Bantuan berupa paket makanan dan minuman telah diterima oleh para pejuang nafkah di jalanan, mulai dari pemulung, tukang becak, tukang rongsok, hingga masyarakat yang membutuhkan. Kami berharap kegiatan sederhana ini dapat terus menghadirkan manfaat yang nyata, mempererat ukhuwah, serta menumbuhkan semangat saling peduli di tengah kehidupan masyarakat. InsyaAllah, setiap paket makanan yang dibagikan menjadi bagian dari amal kebaikan yang terus mengalir pahalanya. Jazakumullahu khairan kepada seluruh donatur dan sahabat kebaikan yang telah mempercayakan amanahnya melalui Yayasan Indonesia Uluran Tangan. Berkat kepedulian dan keikhlasan Anda, senyum serta doa dari para pejuang nafkah kembali menghiasi perjalanan program Jumat Berkah. Semoga Allah SWT membalas setiap sedekah dengan rezeki yang lebih luas, kesehatan yang senantiasa terjaga, umur yang penuh keberkahan, serta pahala yang terus mengalir. Mari terus bersama menebarkan manfaat bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan. InsyaAllah, setiap uluran tangan yang diberikan dengan ikhlas akan menjadi cahaya amal yang menemani perjalanan kita menuju ridha Allah SWT. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. —– 🏩 Yayasan Indonesia Uluran TanganLayanan Umat l Donasi Dakwah l Zakat | Infaq l Shodaqoh l Sosial Fisabililllah 📡 Saluran Whatsapp 🖥️ Facebook 📷 Instagram 💽 Youtube 📱 Info & Konfirmasi:╰┈➤ 0821.4000.4011 – 0811.50.5000.70
Decluttering dan Sedekah Barang: Mengapa Melepaskan Barang Membuat Pikiran Lebih Tenang?

Decluttering dan Sedekah Barang: Mengapa Melepaskan Barang Membuat Pikiran Lebih Tenang? 24 Juli 2026 Edukasi/Inspiratif Pelajari manfaat decluttering bagi kesehatan mental serta bagaimana sedekah barang membantu sesama sekaligus mendukung lingkungan yang berkelanjutan. Pernahkah Anda membuka lemari yang penuh sesak, lalu merasa bingung harus mulai dari mana? Atau melihat sudut rumah dipenuhi barang yang sudah lama tidak digunakan hingga muncul rasa lelah sebelum benar-benar merapikannya? Pengalaman seperti ini sangat umum terjadi. Kesibukan sehari-hari membuat barang terus bertambah, sementara waktu untuk memilah sering kali tertunda. Tanpa disadari, rumah menjadi penuh dengan clutter atau penumpukan barang yang sebenarnya sudah tidak lagi memberikan manfaat. Di sisi lain, banyak keluarga di Indonesia masih membutuhkan pakaian layak pakai, buku, maupun perlengkapan rumah tangga. Di sinilah decluttering, sedekah barang, dan donasi barang menjadi solusi yang tidak hanya memberi ruang di rumah, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial dan lingkungan. Apa Itu Decluttering? Decluttering adalah proses memilah dan mengurangi barang yang sudah tidak digunakan, tidak dibutuhkan, atau tidak lagi memberikan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan decluttering bukan sekadar membuat rumah terlihat rapi, melainkan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman, fungsional, dan mendukung kesejahteraan psikologis. Dalam konsep gaya hidup minimalis, seseorang berusaha mempertahankan barang yang benar-benar bermanfaat sehingga ruang hidup menjadi lebih sederhana dan mudah dikelola. Mengapa Terlalu Banyak Barang Dapat Memengaruhi Pikiran? Dalam psikologi lingkungan (environmental psychology), kondisi fisik tempat tinggal dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, berkonsentrasi, dan mengelola emosi. Penelitian Princeton University Neuroscience Institute menemukan bahwa lingkungan yang dipenuhi banyak objek visual dapat mengurangi kemampuan otak untuk memusatkan perhatian karena perhatian harus terbagi pada banyak rangsangan sekaligus. Sementara itu, penelitian UCLA Center on Everyday Lives of Families (CELF) menunjukkan bahwa rumah yang dipenuhi barang sering dikaitkan dengan meningkatnya rasa kewalahan, terutama pada ibu rumah tangga. Akibatnya, clutter dapat membuat seseorang merasa: lebih mudah stres sulit fokus cepat lelah secara mental kesulitan mengambil keputusan (decision fatigue) merasa rumah tidak lagi menjadi tempat yang menenangkan Hubungan Decluttering dengan Kesehatan Mental Decluttering bukan terapi medis dan tidak dapat menggantikan penanganan profesional untuk gangguan kesehatan mental. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan yang lebih tertata dapat membantu mendukung kenyamanan dan kesejahteraan psikologis. Menurut American Psychological Association (APA), stres dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan tempat seseorang beraktivitas. Rumah yang lebih rapi dapat membantu menciptakan suasana yang lebih kondusif untuk beristirahat, bekerja, maupun berinteraksi bersama keluarga. Beberapa manfaat decluttering antara lain: mengurangi rasa kewalahan akibat rumah yang berantakan meningkatkan fokus saat bekerja atau belajar mempermudah aktivitas sehari-hari mengurangi waktu mencari barang mendukung praktik mindfulness karena lingkungan terasa lebih tenang membantu menciptakan rumah bebas clutter yang lebih nyaman Mengapa Melepaskan Barang Membuat Pikiran Lebih Tenang? Melepaskan barang yang sudah tidak digunakan sering kali menghadirkan rasa lega. Hal ini bukan semata karena ruang menjadi kosong, tetapi karena beban visual dan keputusan yang harus dihadapi setiap hari ikut berkurang. Semakin sedikit barang yang harus dirawat, disusun, atau dipindahkan, semakin sederhana pula rutinitas sehari-hari. Banyak orang juga merasakan bahwa decluttering membantu mereka lebih menghargai barang yang benar-benar digunakan sehingga konsumsi menjadi lebih bijak. “Ketika kita melepaskan barang yang tidak lagi dibutuhkan, kita tidak hanya memberi ruang di rumah, tetapi juga membuka ruang untuk ketenangan, kepedulian, dan harapan bagi orang lain.” Sedekah Barang sebagai Bentuk Decluttering yang Bermakna Decluttering akan memiliki nilai yang lebih besar ketika barang yang masih layak pakai tidak dibuang, melainkan diberikan kepada orang yang membutuhkan. Melalui sedekah barang, pakaian, buku, mainan anak, perlengkapan sekolah, hingga perlengkapan rumah tangga dapat kembali memberikan manfaat. Manfaat sedekah barang meliputi: membantu keluarga yang membutuhkan memperpanjang masa pakai barang mengurangi pembelian barang baru mengurangi limbah yang berakhir di tempat pembuangan memperkuat kepedulian sosial menjadikan decluttering lebih bermakna Dampak Sosial dan Lingkungan dari Sedekah Barang Program donasi pakaian, donasi buku, dan barang bekas layak pakai merupakan bagian dari konsep circular economy, yaitu menjaga agar barang tetap digunakan selama mungkin sebelum menjadi limbah. Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), industri tekstil merupakan salah satu penyumbang limbah dan emisi yang signifikan secara global. Memperpanjang umur pakaian melalui penggunaan kembali (reuse) merupakan salah satu langkah yang mendukung pengurangan limbah tekstil. Konsep ini juga sejalan dengan prinsip: Reduce: mengurangi konsumsi berlebihan. Reuse: menggunakan kembali barang yang masih layak. Recycle: mendaur ulang ketika barang tidak lagi dapat digunakan. Melalui kebiasaan berbagi barang, masyarakat ikut berkontribusi pada lingkungan berkelanjutan tanpa harus melakukan perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Peran Yayasan Indonesia Uluran Tangan dalam Program Sedekah Barang Yayasan Indonesia Uluran Tangan menghadirkan Program Sedekah Barang sebagai jembatan antara masyarakat yang memiliki barang layak pakai dengan keluarga yang membutuhkan. Barang yang dapat didonasikan antara lain: donasi pakaian donasi buku perlengkapan sekolah perlengkapan rumah tangga mainan anak perlengkapan ibadah Alat elektronik barang lain yang masih layak digunakan Untuk memudahkan masyarakat, tersedia layanan penjemputan donasi barang di wilayah tertentu sehingga proses berbagi menjadi lebih praktis. Pelajari lebih lanjut melalui: Program Sedekah Barang: https://sedekahbarang.ulurtangan.com/ Tentang Kami: https://ulurtangan.com/tentang-kami Berita & Kegiatan: https://ulurtangan.com/berita Tips Memulai Decluttering di Rumah Memulai decluttering tidak harus dilakukan sekaligus. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih mudah dipertahankan. Langkah memulai decluttering: mulai dari satu laci atau satu rak tetapkan waktu 15–30 menit setiap hari kelompokkan barang berdasarkan kategori pisahkan barang yang masih digunakan dan yang sudah tidak diperlukan bersihkan area sebelum menyusun kembali Tips memilih barang yang akan didonasikan: masih layak pakai bersih dan berfungsi dengan baik tidak rusak berat masih bermanfaat bagi penerima kemas dengan rapi sebelum disumbangkan Kesimpulan Decluttering bukan sekadar tren gaya hidup minimalis, tetapi cara sederhana untuk menciptakan rumah yang lebih nyaman, mengurangi rasa kewalahan, dan mendukung kesejahteraan psikologis. Walaupun bukan terapi atau pengganti penanganan profesional bagi masalah kesehatan mental, lingkungan yang lebih tertata dapat membantu seseorang merasa lebih nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Ketika proses decluttering dipadukan dengan sedekah barang, manfaatnya menjadi lebih luas. Barang yang tidak lagi digunakan memperoleh kehidupan baru, membantu keluarga yang membutuhkan, mengurangi limbah, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih berkelanjutan. Mari Mulai Berbagi Hari Ini Tidak semua barang yang memenuhi rumah harus berakhir menjadi sampah. Mulailah memilah barang yang masih layak pakai, seperti pakaian, buku, perlengkapan sekolah, maupun perlengkapan rumah tangga. Salurkan melalui Program Sedekah Barang