Yayasan Indonesia Uluran Tangan mendampingi Safia, anak dengan riwayat hidrosefalus sejak lahir yang dirawat sang nenek sejak kecil, menjalani operasi di RSUD Bekasi pada 5 Oktober 2026. Di tengah kendala biaya dan tunggakan BPJS, pengajuan SKTM membantu Safia mengakses tindakan medis. Pendampingan berlanjut untuk mendukung kebutuhan pengobatannya.
Siapa yang mendampingi seorang anak ketika proses pengobatannya belum dapat berjalan seperti yang diharapkan? Bagi Safia, sosok tersebut adalah neneknya. Sejak berusia sekitar satu tahun, Safia tinggal bersama nenek dan kakeknya yang turut merawat serta mendampinginya.
Pada 25 September 2026, tim Yayasan Indonesia Uluran Tangan melakukan survei di Bekasi untuk melihat kondisi Safia secara langsung sekaligus memahami kebutuhan keluarganya. Dari kunjungan tersebut, tim memperoleh gambaran mengenai riwayat kesehatan, kondisi keluarga, serta kendala yang dihadapi dalam mengakses pengobatan.
Safia memiliki riwayat hidrosefalus sejak lahir. Berdasarkan keterangan keluarga, sekitar 2018 atau 2019, Safia pernah menjalani operasi dan mendapat pemasangan selang sebagai bagian dari penanganan kondisinya. Keluarga juga menyampaikan bahwa selang tersebut memerlukan pemeriksaan dan penanganan lanjutan secara berkala.
Namun, keterbatasan biaya membuat beberapa kebutuhan kontrol belum dapat dilakukan sesuai yang diharapkan. Di sisi lain, keluarga menyampaikan bahwa kepesertaan BPJS Safia memiliki tunggakan lebih dari satu tahun. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala yang perlu diperhatikan dalam upaya melanjutkan akses layanan kesehatan.
Sejak masih kecil, Safia mendapat perhatian dan pendampingan dari neneknya dalam menjalani keseharian. Ayah dan ibu Safia sudah tidak lagi mendampingi keluarga. Informasi mengenai kondisi keluarga tersebut tetap menjadi bagian yang perlu diperhatikan bersama keterangan dan dokumen pendukung lainnya.
Dalam kesehariannya, keluarga Safia menjalani kehidupan dengan kemampuan ekonomi yang terbatas. Kebutuhan rumah tangga dipenuhi dari penghasilan sederhana yang dimiliki keluarga. Tempat tinggal mereka juga berada dalam kondisi sederhana.
Karena itu, ketika muncul kebutuhan kesehatan atau biaya tambahan, keluarga perlu mempertimbangkan kembali kemampuan yang tersedia. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pengobatan Safia menjadi persoalan yang tidak dapat dipisahkan dari keadaan ekonomi keluarganya.
Meski demikian, ada seorang nenek yang terus mendampingi Safia sejak usia sangat kecil. Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam keseharian Safia, termasuk ketika keluarga berusaha mencari jalan agar kebutuhan pemeriksaan dan pengobatannya dapat kembali dilakukan.
Saat survei berlangsung, keluarga menyampaikan bahwa Safia sedang mengalami kondisi tubuh yang lebih lemah dan nafsu makan yang berkurang. Keluarga juga menyampaikan adanya benjolan pada area dada di sekitar jalur selang.
Informasi tersebut menjadi bagian dari keterangan yang diperoleh saat asesmen dan tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan medis. Kondisi Safia tetap memerlukan pemeriksaan tenaga kesehatan untuk mengetahui keadaan dan menentukan penanganan yang sesuai.
Secara umum, penanganan hidrosefalus dapat melibatkan penggunaan shunt atau selang untuk membantu mengatur aliran cairan serebrospinal. Namun, kondisi setiap pasien dapat berbeda. Karena itu, pemeriksaan dan pemantauan tenaga kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam menentukan langkah selanjutnya.
Dari hasil survei, tim Uluran Tangan kemudian memetakan kebutuhan Safia dan keluarganya. Bantuan awal sebesar Rp200.000 diberikan sebagai bagian dari pendampingan yang dilakukan saat kunjungan tersebut.
Bantuan itu bukan dimaksudkan untuk menentukan hasil pengobatan Safia. Sebaliknya, bantuan diberikan sebagai bentuk dukungan awal sembari proses pendampingan dan upaya memperoleh akses layanan kesehatan terus dilakukan.
Bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas, kebutuhan kesehatan terkadang harus dipertimbangkan bersama kebutuhan lainnya. Ketika pemeriksaan diperlukan, keluarga tidak hanya memikirkan biaya pengobatan, tetapi juga kebutuhan transportasi, administrasi, obat, pemeriksaan penunjang, dan kebutuhan sehari-hari.
Dalam kondisi Safia, keluarga menyampaikan bahwa tunggakan BPJS menjadi salah satu kendala yang mereka hadapi. Karena itu, pendampingan tidak berhenti pada pemberian bantuan awal. Tim juga terus mengikuti perkembangan kebutuhan Safia dan berupaya mendampingi proses akses layanan kesehatan. Perjalanan tersebut kemudian berlanjut setelah survei dilakukan.
Pada Senin, 5 Oktober 2026, tim Yayasan Indonesia Uluran Tangan kembali mendampingi Safia di RSUD Bekasi. Kali ini, pendampingan dilakukan dalam proses Safia menjalani tindakan operasi.
Kondisi administrasi BPJS Safia pada saat itu masih memiliki tunggakan. Namun, keluarga kemudian mengajukan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sebagai bagian dari proses untuk memperoleh akses layanan kesehatan.
Melalui proses pengajuan tersebut, Safia akhirnya dapat menjalani operasi meskipun tunggakan BPJS belum terselesaikan sepenuhnya.
Kehadiran tim di rumah sakit menjadi bagian dari pendampingan yang dilakukan setelah survei sebelumnya. Selain mendampingi proses di rumah sakit, tim juga memberikan bantuan kedua sebesar Rp300.000 kepada Safia dan keluarganya.
Dengan demikian, total bantuan langsung yang telah diberikan dalam dua tahap menjadi Rp500.000, yaitu Rp200.000 saat survei dan Rp300.000 saat pendampingan di rumah sakit.
Operasi yang dijalani Safia menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan pengobatannya. Setelah tindakan dilakukan, tim kembali memperoleh informasi mengenai kondisi Safia dari pendamping tenaga medis.
Berdasarkan informasi dari asisten dokter, tanda-tanda vital Safia setelah tindakan dilaporkan dalam kondisi baik atau normal.
Informasi tersebut menjadi perkembangan positif dalam proses pendampingan. Namun, hal ini tidak berarti seluruh kebutuhan Safia telah selesai. Kondisi setelah operasi tetap perlu dipantau dan tindak lanjut medis tetap mengikuti arahan tenaga kesehatan yang menangani Safia.
Karena itu, pendampingan Safia masih berlanjut. Kebutuhan administrasi, kontrol, pengobatan, transportasi, maupun kebutuhan medis lain yang belum terakomodasi tetap perlu diperhatikan berdasarkan hasil verifikasi dan arahan tenaga kesehatan.
Perjalanan Safia menunjukkan bahwa kebutuhan seorang penerima manfaat dapat berkembang dari satu tahap ke tahap berikutnya.
Pada awalnya, tim datang untuk melakukan survei dan memahami kondisi Safia. Dari kunjungan tersebut, ditemukan sejumlah kebutuhan yang berkaitan dengan kondisi kesehatan dan keterbatasan ekonomi keluarga.
Bantuan pertama sebesar Rp200.000 diberikan saat survei. Setelah itu, proses pendampingan terus dilakukan hingga Safia kembali ke RSUD Bekasi untuk menjalani operasi. Pada kesempatan tersebut, bantuan kedua sebesar Rp300.000 kembali diberikan.
Pendampingan tersebut menjadi bentuk ikhtiar untuk tidak hanya hadir ketika kebutuhan pertama kali ditemukan, tetapi juga mengikuti perkembangan penerima manfaat ketika memasuki tahapan berikutnya.
Dalam Islam, kepedulian terhadap sesama dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kebaikan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Semangat tersebut dapat diwujudkan melalui langkah sederhana. Dalam pendampingan Safia, dukungan tidak hanya berupa bantuan dana, tetapi juga hadir untuk mengikuti proses, membantu mengupayakan akses layanan, serta mendampingi keluarga ketika menghadapi tahapan pengobatan.
Kepedulian dengan demikian tidak berhenti pada rasa iba. Ia dapat diwujudkan melalui dukungan yang terarah, sesuai kebutuhan, dan tetap mempertimbangkan hasil verifikasi serta arahan tenaga kesehatan
Perjalanan Safia sejauh ini telah melalui beberapa tahapan. 25 September 2026, tim melakukan survei untuk melihat kondisi Safia dan memahami kebutuhan keluarganya. Pada kunjungan tersebut, diberikan bantuan awal sebesar Rp200.000.
Selanjutnya, tim terus mengikuti perkembangan kondisi Safia hingga pada 5 Oktober 2026 kembali mendampinginya di RSUD Bekasi. Safia dapat menjalani operasi melalui proses pengajuan SKTM, sementara tunggakan BPJS masih belum terselesaikan sepenuhnya.
Pada kesempatan yang sama, tim memberikan bantuan kedua sebesar Rp300.000. Setelah operasi, berdasarkan informasi dari asisten dokter, tanda-tanda vital Safia dilaporkan dalam kondisi baik atau normal.
Perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa pendampingan tidak selalu selesai ketika satu kebutuhan telah teratasi. Setelah operasi, masih ada tahapan kontrol dan kebutuhan lain yang perlu diperhatikan sesuai kondisi Safia.
Saat ini, fokus pendampingan Safia bergeser pada kebutuhan setelah tindakan operasi. Tunggakan BPJS masih menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan. Selain itu, kebutuhan kontrol, pengobatan, transportasi, maupun kebutuhan lain yang belum terakomodasi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan hasil verifikasi. Karena itu, dukungan untuk Safia masih terbuka. Bantuan yang terkumpul diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan yang masih dihadapi keluarga, dengan penggunaan yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan yang terverifikasi.
Bagi Sahabat Ulurtangan yang berkenan mengambil bagian, dukungan dapat diberikan sesuai kemampuan masing-masing. Selain melalui donasi, membagikan informasi mengenai kondisi dan perjalanan Safia juga dapat menjadi bentuk kepedulian agar semakin banyak pihak mengetahui kebutuhan yang sedang dihadapi. Operasi Safia telah dilalui. Namun, perjalanan pendampingannya belum selesai. Semoga setiap dukungan yang diberikan dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk membantu Safia dan keluarganya menjalani tahapan berikutnya dengan lebih ringan.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat.”
Donasi dapat disalurkan dengan mudah melalui metode pembayaran yang tersedia atau melalui rekening resmi Yayasan Indonesia Uluran Tangan.
Demi menjaga amanah dan ketertiban pengelolaan donasi, kami mohon kesediaannya untuk melakukan konfirmasi setiap transaksi donasi.
Konfirmasi ini membantu kami memastikan donasi tersalurkan sesuai niat dan peruntukannya.
Apabila belum ada konfirmasi, donasi bisa saja dikelola untuk program sosial lain yang paling membutuhkan, agar manfaatnya tetap segera dirasakan oleh umat.
Ikuti aktivitas dan perkembangan program Ulur Tangan melalui media sosial kami. Bagikan informasi kebaikan ini agar semakin banyak orang dapat mengetahui, terlibat, dan mengambil bagian.