ImageTanpa Ayah & Ibu, Savia Penderita Hydrosefalus Har...
Image

Tanpa Ayah & Ibu, Savia Penderita Hydrosefalus Harus Segera Jalani Operasi, Butuh Uluran Tangan

Rp 560.000 terkumpul dari Rp 2.000.000
8 Donasi 1 bulan, 9 hari lagi

Operasi Safia Telah Dilalui, Namun Perjalanan Pengobatannya Belum Selesai

Ada kondisi ketika sebuah keluarga tidak hanya membutuhkan biaya untuk berobat, tetapi juga membutuhkan jalan agar pengobatan itu bisa diakses. Hal tersebut menjadi bagian dari perjalanan Safia, anak perempuan berusia 11 tahun di Bekasi yang memiliki riwayat hidrosefalus sejak lahir. Safia tinggal bersama nenek dan kakeknya sejak sekitar usia satu tahun. Dalam keterbatasan ekonomi keluarga, keduanya terus mendampingi Safia menjalani kesehariannya. Kini, setelah Safia menjalani operasi pada 5 Oktober 2026, kebutuhan pendampingan masih berlanjut.

Perjalanan ini bermula ketika Yayasan Indonesia Uluran Tangan melakukan survei pada 25 September 2026. Tim datang untuk melihat kondisi Safia secara langsung dan memahami kebutuhan keluarganya. Berdasarkan keterangan keluarga, Safia pernah menjalani operasi sekitar 2018 atau 2019 dan mendapatkan pemasangan selang sebagai bagian dari penanganan medisnya. Keluarga juga menyampaikan bahwa selang tersebut membutuhkan pemeriksaan serta penanganan lanjutan secara berkala. Namun, keterbatasan biaya membuat beberapa kebutuhan kontrol belum berjalan seperti yang diharapkan.

Sejak Kecil, Nenek Menjadi Sosok yang Mendampingi Safia

Sejak usia sekitar satu tahun, Safia tinggal bersama nenek. Neneknya menjadi wali sekaligus sosok yang mendampingi Safia dalam kesehariannya. Data keluarga yang tersedia menyebutkan bahwa ayah Safia tidak lagi mendampingi keluarga, sementara ibu pergi bekerja ke luar daerah dan belum kembali. Karena itu, peran nenek dan kakek menjadi bagian penting dalam perjalanan Safia hingga saat ini.

Di sisi lain, keluarga Safia menjalani kehidupan dengan keterbatasan ekonomi. Kebutuhan sehari-hari perlu dipenuhi dengan kemampuan yang tersedia, sementara kebutuhan kesehatan dapat membutuhkan biaya tambahan. Kondisi tersebut membuat keluarga perlu mencari jalan ketika Safia membutuhkan pemeriksaan atau penanganan medis. Karena itu, dukungan kepada Safia tidak hanya berkaitan dengan nominal bantuan, tetapi juga membantu keluarga melewati satu tahapan kebutuhan yang sedang mereka hadapi.

Riwayat Kesehatan Safia Membutuhkan Pemantauan yang Berkelanjutan

Safia memiliki riwayat hidrosefalus sejak lahir. Berdasarkan keterangan keluarga, ia pernah menjalani operasi sekitar 2018 atau 2019 dan mendapatkan pemasangan selang. Keluarga menyampaikan bahwa selang tersebut membutuhkan pemeriksaan dan penggantian secara berkala. Namun, keterbatasan biaya membuat beberapa kontrol dan kebutuhan lanjutan belum dapat dilakukan sesuai yang diharapkan. Saat asesmen, keluarga juga menyampaikan bahwa Safia terlihat lebih lemas, nafsu makannya berkurang, serta terdapat benjolan pada area dada di sekitar jalur selang.

Informasi mengenai kondisi tersebut berasal dari keterangan keluarga saat asesmen. Karena itu, tim tidak menjadikannya sebagai kesimpulan medis. Pemeriksaan tenaga kesehatan tetap menjadi dasar untuk mengetahui kondisi Safia dan menentukan penanganan yang sesuai. Dalam konteks ini, bantuan pengobatan Safia diarahkan untuk membantu kebutuhan yang dapat diverifikasi, sementara keputusan medis tetap mengikuti hasil pemeriksaan dan arahan tenaga kesehatan.

Tunggakan BPJS Menjadi Salah Satu Kendala Keluarga

Selain kebutuhan medis, keluarga Safia juga menghadapi persoalan administrasi. Berdasarkan informasi yang diperoleh, kepesertaan BPJS Safia memiliki tunggakan lebih dari satu tahun. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala ketika keluarga berusaha mengakses layanan kesehatan. Namun, keluarga tetap mencari jalan agar Safia dapat memperoleh penanganan yang dibutuhkan.

Upaya tersebut kemudian berlanjut ketika Safia perlu mendapatkan tindakan di rumah sakit. Pada 5 Oktober 2026, tim Yayasan Indonesia Uluran Tangan kembali mendampingi Safia di RSUD Bekasi. Saat itu, tunggakan BPJS masih belum terselesaikan. Meski demikian, keluarga mengajukan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sebagai bagian dari proses akses layanan kesehatan. Melalui proses tersebut, Safia akhirnya dapat menjalani operasi.

Bantuan Kedua Diberikan Saat Safia Menjalani Operasi

Pendampingan Safia tidak berhenti setelah survei pertama. Saat tim kembali datang ke RSUD Bekasi pada 5 Oktober 2026 untuk mendampingi proses operasi, tim juga memberikan bantuan kedua sebesar Rp200.000. Sebelumnya, Safia telah menerima bantuan awal sebesar Rp200.000 ketika tim melakukan survei pada 25 September 2026. Dengan demikian, total bantuan langsung yang telah diberikan dalam dua tahap mencapai Rp400.000.

Bantuan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar pendampingan, bukan klaim bahwa seluruh kebutuhan Safia telah terpenuhi. Setelah tindakan operasi, tim memperoleh informasi dari pendamping tenaga medis bahwa tanda-tanda vital Safia dilaporkan dalam kondisi baik atau normal. Namun, perkembangan tersebut tetap perlu dipantau melalui kontrol dan arahan tenaga kesehatan. Karena itu, perjalanan Safia masih membutuhkan perhatian pada tahap berikutnya.

Setelah Operasi, Masih Ada Kebutuhan yang Perlu Diperhatikan

Satu tindakan medis dapat menjadi langkah penting, tetapi bukan berarti seluruh kebutuhan langsung selesai. Safia masih membutuhkan pemantauan sesuai arahan tenaga kesehatan. Di sisi lain, tunggakan BPJS masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Kebutuhan kontrol, obat, transportasi, administrasi, atau kebutuhan medis lain juga dapat muncul sesuai kondisi Safia dan hasil pemeriksaan selanjutnya.

Karena itu, target bantuan sebesar Rp2.000.000 tetap menjadi target awal pendampingan Safia. Dana tersebut diupayakan untuk membantu kebutuhan yang telah diverifikasi, termasuk persoalan administrasi BPJS dan kebutuhan pengobatan yang belum terakomodasi. Penggunaan dana tetap perlu menyesuaikan kondisi aktual serta dokumen pendukung yang tersedia. Jika kebutuhan berubah, penyaluran juga akan mengikuti hasil verifikasi agar bantuan tetap tepat guna.

Kepedulian Tidak Selalu Harus Hadir dalam Jumlah Besar

Dalam situasi seperti Safia, bantuan tidak harus menunggu seseorang mampu memberikan dalam jumlah besar. Dukungan dapat hadir sesuai kemampuan masing-masing. Sebagian orang mungkin membantu melalui donasi. Sebagian lainnya dapat membagikan informasi. Ada pula yang memilih membantu dengan mendoakan dan ikut menyebarkan kepedulian di lingkungan terdekat. Dengan cara itu, sebuah kebutuhan tidak hanya diketahui oleh satu keluarga, tetapi memiliki kesempatan untuk mendapat perhatian lebih luas.

Islam juga mengajarkan agar kebaikan dilakukan secara bersama. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma'idah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma'idah: 2)

Pesan tersebut relevan dengan perjalanan Safia. Kepedulian bukan berarti mengambil alih seluruh persoalan sebuah keluarga. Sebaliknya, kita dapat mengambil bagian sesuai kemampuan untuk meringankan salah satu kebutuhan yang sedang mereka hadapi. Bantuan juga dapat diberikan secara bertanggung jawab, berdasarkan kebutuhan yang telah diverifikasi dan tanpa menjanjikan hasil medis tertentu.

Target Rp2 Juta untuk Melanjutkan Pendampingan Pengobatan Safia

Saat ini, Yayasan Indonesia Uluran Tangan mengupayakan target awal Rp2.000.000 untuk membantu melanjutkan pendampingan Safia. Target tersebut tidak dimaksudkan sebagai angka pasti seluruh biaya pengobatan. Kebutuhan medis setiap pasien dapat berubah sesuai pemeriksaan. Karena itu, dana akan diarahkan berdasarkan kebutuhan yang terverifikasi dan kondisi Safia pada tahap berikutnya.

Bagi Sahabat Ulurtangan yang ingin mengambil bagian, tidak ada jumlah tertentu yang harus diberikan. Setiap dukungan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keikhlasan masing-masing. Sahabat juga dapat membantu dengan membagikan halaman campaign ini kepada keluarga, teman, atau lingkungan yang mungkin berkenan ikut mendukung. Semoga dukungan yang terkumpul dapat membantu mengurangi satu demi satu kebutuhan yang masih dihadapi keluarga Safia.

Pada akhirnya, kisah Safia bukan hanya tentang operasi yang telah dijalani. Ini juga tentang seorang anak yang sejak kecil mendapat pendampingan dari nenek dan kakeknya. Ada keluarga yang terus mencari jalan ketika kemampuan mereka terbatas. Ada pula orang-orang yang memilih hadir untuk membantu satu bagian dari perjalanan tersebut. Operasi telah dilalui, tetapi pendampingan masih berjalan. Semoga setiap kebaikan yang dititipkan dapat menjadi jalan bagi Safia dan keluarganya untuk melanjutkan langkah berikutnya.

🗳 Donasi Program CINTA YATIM dapat disalurkan dengan cara:

  1. Klik Donasi Sekarang
  2. Pilih Nominal Donasi
  3. Pilih Metode Pembayaran
  4. Lengkapi Data Diri
  5. Transaksi Sesuai Metode Pembayaran

Atau transfer ke rekening:

🏦 BSI: 88.99.77.1231

🏦 Mandiri: 167.000.529.4060

a/n: Yayasan Indonesia Uluran Tangan

Info & Konfirmasi:
📲 0811.50.5000.70 / 0812.80.700.40

Catatan:
Demi menjaga amanah dan ketertiban pengelolaan donasi, kami mohon kesediaannya untuk melakukan konfirmasi setiap transaksi donasi.

Konfirmasi ini membantu kami memastikan donasi tersalurkan sesuai niat dan peruntukannya.

Apabila belum ada konfirmasi, donasi bisa saja dikelola untuk program sosial lain yang paling membutuhkan, agar manfaatnya tetap segera dirasakan oleh umat.

Jazakumullahu khairan katsiran atas kepercayaan dan amanah yang dititipkan. Semoga Allah membalas dengan keberkahan dan pahala terbaik.

Baca selengkapnya ▾

  • September, 26 2026

    Campaign is published

Nani Widayati20 jam yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 100.000
Noldi Ettah20 jam yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 150.000
Riska Melanie2 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 50.000
Endah Rulliyanti2 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 50.000
Novian3 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 50.000
Bagikan melalui:
✕ Close
Perlu bantuan, hubungi Admin!