BEKASI, (Ulurtangan.com) – Ada masa ketika kehilangan pekerjaan bukan hanya berarti kehilangan penghasilan. Bagi sebagian orang, satu surat pemutusan kerja dapat membuat seluruh rencana keluarga ikut berubah—termasuk biaya tempat tinggal, pendidikan anak, dan kebutuhan makan sehari-hari.
Hal itulah yang sedang dihadapi Bapak Sasongko Raharjanto, seorang mualaf yang kini tinggal di Tambun Selatan. Sebelum memeluk Islam, ia pernah menjalani kehidupan sebagai pendeta. Kini, setelah pekerjaan sebelumnya sebagai resepsionis berakhir karena kontrak kerjanya selesai, ia menjalani pekerjaan memulung untuk mempertahankan kehidupan keluarganya.
Pada 12 September 2026, Yayasan Indonesia Uluran Tangan melalui program bantuan sosial menyalurkan paket sembako kepada keluarga Bapak Sasongko. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan dukungan bagi keluarga mualaf dhuafa yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.
Sekitar dua bulan sebelumnya, kehidupan Bapak Sasongko berubah setelah dirinya terkena pemutusan kontrak kerja. Di usia yang tidak lagi muda, mencari pekerjaan baru ternyata bukan perkara mudah. Pilihan yang tersedia semakin terbatas, sementara kebutuhan keluarga tetap berjalan setiap hari tanpa menunggu kondisi membaik.
Akhirnya, memulung menjadi pekerjaan yang ia jalani. Setiap hari, penghasilannya rata-rata hanya sekitar Rp20.000. Nominal tersebut harus berhadapan dengan kebutuhan rumah tangga yang jauh lebih besar. Ia memiliki kewajiban membayar kontrakan sekitar Rp400.000 per bulan, belum termasuk kebutuhan makan dan keperluan keluarga lainnya.
Yang membuat situasi tersebut semakin berat adalah tanggung jawab pendidikan dua anaknya. Keduanya sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren, masing-masing duduk di kelas 11 dan kelas 12 SMA. Biaya pondok untuk dua anak tersebut mencapai sekitar Rp2 juta, sebuah angka yang tentu terasa berat ketika penghasilan harian hanya berasal dari memulung.
Dalam situasi seperti ini, paket sembako mungkin terlihat sederhana. Beberapa bahan kebutuhan pokok tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan ekonomi sebuah keluarga. Namun justru di situlah arti bantuan sosial perlu dilihat secara lebih manusiawi.
Di sinilah sebuah bantuan sederhana dapat memiliki makna yang lebih dalam. Yang diterima keluarga bukan hanya bahan kebutuhan pokok, tetapi juga pesan bahwa masih ada orang yang peduli terhadap perjalanan mereka. Bapak Sasongko menyampaikan terima kasih kepada para donatur dan relawan Ulur Tangan yang telah membantu meringankan bebannya.
“Banyak terima kasih kepada para donatur dan relawan Ulur Tangan membantu saya melewati kesulitan. Semoga Allah membalas rezeki berlimpah, semua dilancarkan, semakin bisa berdampak membantu masyarakat yang kekurangan.”
Ucapan tersebut memperlihatkan bahwa bantuan sosial tidak selalu harus diukur dari seberapa besar nilai yang diberikan. Ada nilai lain yang sering tidak tercatat dalam angka: rasa tidak sendirian ketika seseorang sedang berada dalam masa sulit.
Bantuan pangan dapat menjadi ruang bernapas ketika sebagian pendapatan yang sangat terbatas harus dialihkan untuk kebutuhan lain. Ketika kebutuhan dapur sedikit terbantu, seseorang memiliki kesempatan untuk mempertahankan prioritas yang lebih besar termasuk memastikan anak-anak tetap dapat melanjutkan pendidikan.
Bagi keluarga mualaf seperti Bapak Sasongko, perjalanan tersebut juga memiliki dimensi tersendiri. Ia tidak hanya sedang menghadapi persoalan ekonomi, tetapi menjalani fase kehidupan setelah mengambil keputusan besar dalam keyakinannya. Dukungan dari lingkungan menjadi salah satu bentuk bahwa perubahan hidup tidak harus dijalani sendirian.
Dalam Al-Qur’an, mualaf termasuk salah satu kelompok yang disebut dalam pembahasan penerima zakat. Allah berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 60, yang menjelaskan kelompok-kelompok yang berhak menerima zakat, termasuk al-mu’allafatu qulubuhum atau orang-orang yang hatinya perlu dikuatkan.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa perhatian kepada mualaf memiliki tempat dalam ajaran Islam. Namun kepedulian tidak berhenti pada status seseorang sebagai mualaf. Kondisi ekonomi, tanggungan keluarga, pendidikan anak, dan kebutuhan sehari-hari juga menjadi bagian dari realitas yang perlu dilihat secara utuh.
Ada satu hal yang mudah terlewat ketika melihat bantuan sembako yang dibantu sebenarnya bukan hanya isi paketnya, tetapi beban yang sedang dipikul seseorang. Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, kebutuhan pokok yang terpenuhi hari ini dapat membuat sebagian uang yang tersedia digunakan untuk keperluan lain. Dalam kasus Bapak Sasongko, ada kontrakan yang harus dibayar dan dua anak yang masih menempuh pendidikan di pesantren.
Karena itu, bantuan sosial sebaiknya tidak selalu diukur dari besar kecilnya nominal. Ada kalanya nilai sebuah bantuan justru terasa dari persoalan apa yang berhasil dibuat sedikit lebih ringan setelah bantuan tersebut sampai kepada penerima.
Penyaluran bantuan paket sembako pada 12 September 2026 di Tambun Selatan menjadi bagian dari ikhtiar Yayasan Indonesia Uluran Tangan untuk menyalurkan amanah donatur kepada masyarakat yang membutuhkan. Dalam kegiatan tersebut, penerima manfaat berasal dari keluarga mualaf dhuafa, dengan jumlah penerima yang tercatat sebanyak tiga orang.
Kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa kepedulian sosial tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Ada kalanya sebuah paket kebutuhan pokok datang pada waktu yang tepat, ketika sebuah keluarga sedang menghitung kembali pengeluaran dan berusaha menjaga agar kebutuhan paling dasar tetap terpenuhi.
Bapak Sasongko menyampaikan rasa terima kasih kepada para donatur dan relawan Ulur Tangan yang telah memberikan bantuan. Ia berharap kebaikan tersebut dibalas oleh Allah dengan rezeki yang berlimpah, segala urusan dilancarkan, dan para donatur maupun relawan semakin mampu memberikan dampak bagi masyarakat yang mengalami kekurangan.
Kisah Bapak Sasongko juga mengingatkan bahwa kondisi ekonomi seseorang dapat berubah dalam waktu yang sangat singkat. Orang yang sebelumnya memiliki pekerjaan tetap dapat kehilangan penghasilan, sementara kewajiban keluarga tetap berjalan seperti biasa.
Karena itu, kepedulian sosial memiliki arti ketika hadir bukan untuk menghakimi keadaan seseorang, melainkan membantu mereka melewati satu bagian perjalanan yang sedang berat. Paket sembako yang diterima hari itu mungkin tidak mengubah seluruh keadaan keluarga, tetapi dapat menjadi salah satu penyangga agar mereka tetap mampu melangkah.
Bagi para donatur, setiap bantuan yang dititipkan melalui lembaga sosial juga memiliki perjalanan tersendiri. Ia berpindah dari niat menjadi amanah, kemudian disalurkan kepada penerima yang membutuhkan. Ketika proses tersebut dilakukan dengan baik, donasi tidak sekadar menjadi angka dalam laporan, tetapi berubah menjadi manfaat yang benar-benar dirasakan.
Pada akhirnya, kisah keluarga mualaf di Tambun ini bukan hanya tentang seorang mantan pendeta yang kini memulung setelah kehilangan pekerjaan. Ini adalah cerita tentang seseorang yang tetap berusaha memenuhi tanggung jawab keluarga meski penghasilannya terbatas, tentang dua anak yang masih mengejar pendidikan, dan tentang dukungan kecil yang hadir di tengah perjalanan yang tidak mudah.
Semoga penyaluran bantuan melalui Yayasan Indonesia Uluran Tangan terus menjadi jembatan antara amanah para donatur dan masyarakat yang membutuhkan. Bagi siapa pun yang memiliki kesempatan untuk berbagi, kepedulian dapat dimulai dari apa yang mampu diberikan sembako, bantuan pendidikan, maupun bentuk dukungan lain yang tepat sasaran. Jazakumullahu khairan kepada seluruh donatur dan relawan yang telah mengambil bagian dalam menghadirkan manfaat. Semoga setiap kebaikan menjadi amal yang diterima Allah SWT dan membawa kebermanfaatan bagi semakin banyak keluarga. Aamiin.
—–
🏩 Yayasan Indonesia Uluran Tangan
Layanan Umat l Donasi Dakwah l Zakat | Infaq l Shodaqoh l Sosial Fisabililllah
💽 Youtube
📱 Info & Konfirmasi:
╰┈➤ 0821.4000.4011 – 0811.50.5000.70