Maryam al-Ijliya: Perempuan Muslim yang Membaca Langit dengan Astrolabe

Maryam al-Ijliya: Perempuan Muslim yang Membaca Langit dengan Astrolabe 22 Agustus 2026 Dakwah/Inspiratif Mengenal Maryam al-Ijliya al-Asturlabi, perempuan Muslim abad ke-10 yang dikenal sebagai pembuat astrolabe di Aleppo dan jejaknya dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam. Ada sebuah ironi dalam sejarah ilmu pengetahuan: semakin jauh kita berjalan ke masa lalu, semakin sedikit nama perempuan yang muncul dalam catatan. Namun, sesekali sebuah nama berhasil menembus keterbatasan itu—bukan karena kisah hidupnya ditulis panjang, melainkan karena satu catatan pendek menyimpan bukti bahwa ia pernah bekerja di tengah dunia ilmu pengetahuan. Nama itu adalah al-‘Ijliyyah, perempuan pembuat astrolabe yang hidup di Aleppo pada abad ke-10. Dalam literatur modern ia kerap disebut Maryam al-Ijliya al-Asturlabi. Ia dikaitkan dengan pembuatan instrumen astronomi dan diketahui bekerja di lingkungan pemerintahan Sayf al-Dawla, penguasa Aleppo pada pertengahan abad ke-10. Yang menarik, sumber sejarah tentang dirinya sangat terbatas. Justru karena itu, kisahnya perlu diceritakan dengan hati-hati—bukan dengan menambahkan legenda, tetapi dengan membaca apa yang benar-benar tersisa dari sejarah. Siapa Maryam al-ijliya al-Asturlabi? Nama yang paling dekat dengan sumber sejarah sebenarnya adalah al-‘Ijliyyah bint al-‘Ijliyy. Catatan utama mengenai dirinya berasal dari Kitab al-Fihrist, karya Ibn al-Nadim yang disusun pada akhir abad ke-10. Dalam bagian yang membahas pembuat instrumen ilmiah, Ibn al-Nadim menyebut al-‘Ijliyyah sebagai putri seorang pembuat astrolabe dan murid dari pembuat astrolabe bernama Nastulus. Ia juga mencatat keterkaitannya dengan Sayf al-Dawla. Di sini terdapat satu fakta yang sering terlewat ketika kisahnya ditulis ulang. Nama “Maryam” tidak disebut dalam sumber sejarah utama yang mencatat kehidupannya. Nama Maryam atau Mariam al-Ijliya yang populer sekarang merupakan penyebutan modern, sementara sumber awal menyebutnya sebagai al-‘Ijliyyah. Bahkan istilah al-Asturlabi sendiri berkaitan dengan profesi pembuat astrolabe. Karena itu, artikel tentang dirinya sebaiknya membedakan antara fakta yang terdokumentasi dan nama yang berkembang dalam literatur modern. Astrolabe: Teknologi yang Membantu Manusia Membaca Langit Untuk memahami mengapa pekerjaan al-‘Ijliyyah penting, kita perlu memahami terlebih dahulu benda yang dibuatnya. Astrolabe adalah instrumen astronomi yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai perhitungan terkait posisi benda langit dan waktu. Dalam peradaban Islam, instrumen ini berkembang menjadi alat penting dalam tradisi astronomi dan juga memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan keagamaan dan perjalanan. Astrolabe dapat membantu penggunanya menentukan posisi Matahari dan bintang, memperkirakan waktu, serta melakukan perhitungan astronomi tertentu. Dalam konteks masyarakat Muslim, pengetahuan mengenai posisi Matahari juga berkaitan dengan penentuan waktu shalat, sementara perhitungan astronomi dapat membantu menentukan arah kiblat dan kebutuhan navigasi. Dengan demikian, astronomi pada masa itu bukan ilmu yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan sehari-hari. Yang menarik, astrolabe bukan sekadar benda logam dengan bentuk rumit. Di baliknya terdapat perpaduan antara matematika, astronomi, keterampilan membuat instrumen, dan ketelitian teknis. Membuat instrumen semacam itu membutuhkan pemahaman dan keterampilan yang tidak sederhana. Karena itulah, keberadaan seorang perempuan dalam tradisi pembuatan astrolabe pada abad ke-10 menjadi bagian menarik dari sejarah ilmu pengetahuan. Belajar dari Keluarga, Lalu Masuk ke Dunia Keahlian Catatan Ibn al-Nadim memberikan petunjuk bahwa al-‘Ijliyyah berasal dari keluarga pembuat astrolabe. Ayahnya juga seorang pembuat instrumen tersebut dan disebut sebagai murid Nastulus. Al-‘Ijliyyah sendiri disebut sebagai murid dari tokoh yang sama. Artinya, terdapat sebuah lingkungan pembelajaran dan keterampilan yang memungkinkan pengetahuan teknis diwariskan melalui hubungan guru, murid, dan keluarga. Hal ini memberikan sudut pandang yang menarik tentang bagaimana ilmu berkembang pada masa lalu. Pengetahuan tidak selalu berpindah melalui ruang kelas seperti yang kita kenal sekarang. Sebagian keahlian tumbuh melalui praktik langsung, pengamatan, bimbingan seorang ahli, dan keterlibatan dalam suatu komunitas profesi. Dalam kasus al-‘Ijliyyah, sejarah meninggalkan jejak bahwa seorang perempuan menjadi bagian dari tradisi keahlian tersebut. Bekerja di Lingkungan Sayf al-Dawla Al-‘Ijliyyah juga dikaitkan dengan lingkungan Sayf al-Dawla, penguasa Hamdanid yang memerintah Aleppo pada pertengahan abad ke-10. Sayf al-Dawla dikenal sebagai patron ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sehingga Aleppo pada masa pemerintahannya menjadi salah satu lingkungan intelektual yang penting. Sumber modern yang mengkaji Fihrist menempatkan al-‘Ijliyyah dalam konteks komunitas pembuat instrumen dan lingkungan keilmuan tersebut. Namun, ada satu hal yang perlu dijaga: kita tidak memiliki cukup sumber untuk menceritakan secara rinci kehidupan sehari-harinya, metode kerjanya, atau seluruh inovasi yang pernah dibuatnya. Tidak ada karya astrolabe yang dapat dipastikan masih bertahan dan dapat diidentifikasi sebagai buatannya. Karena itu, klaim populer bahwa setiap astrolabe buatannya memiliki desain tertentu atau bahwa ia adalah “penemu astrolabe” perlu diperlakukan dengan hati-hati. Yang dapat kita katakan dengan lebih aman adalah bahwa sumber sejarah mencatatnya sebagai perempuan yang mempelajari dan membuat astrolabe dalam lingkungan keilmuan Aleppo. Mengapa Kisahnya Penting bagi Sejarah Perempuan dan Ilmu Pengetahuan? Justru keterbatasan sumber itulah yang membuat kisah al-‘Ijliyyah menarik. Ia tidak meninggalkan autobiografi panjang, buku terkenal, atau koleksi karya yang mudah ditelusuri. Namanya hanya muncul singkat dalam sebuah katalog keilmuan. Tetapi satu kalimat tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa perempuan dapat ditemukan dalam sejarah pembuatan instrumen ilmiah di dunia Islam abad pertengahan. Buku Women in the History of Science: A Sourcebook bahkan menggunakan catatan tentang al-‘Ijliyyah sebagai salah satu sumber untuk mengkaji keberadaan perempuan dalam sejarah ilmu pengetahuan. Kisah ini juga mengingatkan kita agar tidak mengukur kontribusi seseorang hanya dari seberapa banyak informasi yang berhasil bertahan dalam sejarah. Banyak orang dari masa lalu mungkin hanya meninggalkan satu nama atau satu catatan pendek. Bagi sejarah, satu catatan dapat menjadi fragmen kecil. Bagi generasi sekarang, fragmen itu dapat membuka pertanyaan besar: berapa banyak perempuan lain yang pernah belajar, bekerja, dan menghasilkan pengetahuan tetapi namanya tidak sampai kepada kita? Ilmu dalam Islam Bukan Sekadar Hafalan Semangat menuntut ilmu memiliki kedudukan penting dalam tradisi Islam. Wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW dimulai dengan perintah “Iqra’”, yang secara umum diterjemahkan sebagai “bacalah” dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5. Ayat-ayat tersebut juga menyebut pena dan pengajaran sebagai bagian dari nikmat Allah kepada manusia. Karena itu, kisah ilmuwan dan pengrajin instrumen seperti al-‘Ijliyyah dapat dibaca sebagai bagian dari sejarah panjang masyarakat Muslim yang mengembangkan berbagai bentuk pengetahuan. Tentu kita tidak perlu memaksakan bahwa setiap aktivitas ilmiah masa lalu secara langsung merupakan “penerapan” satu ayat tertentu. Namun, tradisi keilmuan tersebut menunjukkan bahwa ilmu, keterampilan, pengamatan, dan kemampuan menghasilkan teknologi memiliki tempat dalam peradaban Islam. Dari Astrolabe ke Dunia yang Dipenuhi Teknologi Hari ini kita menggunakan GPS, aplikasi peta digital, jam atom, teleskop, dan berbagai perangkat yang mampu melakukan
Yayasan Indonesia Uluran Tangan Menyalurkan 30 Mushaf Al-Qur’an untuk Santri Pengajian di Cikupa, Tangerang.

Yayasan Indonesia Uluran Tangan Menyalurkan 30 Mushaf Al-Qur’an untuk Santri Pengajian di Cikupa, Tangerang. 08 Agustus 2026 Tanggerang TANGGERANG, (Ulurtangan.com) – Yayasan Indonesia Uluran Tangan menyalurkan 30 mushaf Al-Qur’an kepada sekitar 30 santri pengajian di Cikupa, Tangerang. Wakaf ini diharapkan mendukung semangat belajar, membaca, dan menghafal Al-Qur’an. Apa yang terjadi setelah sebuah Al-Qur’an diberikan? Bagi sebagian orang, mungkin jawabannya sederhana: bantuan telah disalurkan dan kegiatan selesai. Namun, bagi para santri yang setiap hari datang untuk belajar mengaji, sebuah mushaf bisa menjadi bagian dari rutinitas yang jauh lebih panjang. Mushaf itu dibuka, dibaca bersama, digunakan untuk memperbaiki bacaan, menghafal ayat demi ayat, hingga memahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Alhamdulillah, pada 8 Agustus 2026, Yayasan Indonesia Uluran Tangan menyalurkan 30 mushaf Al-Qur’an kepada para santri pengajian di Cikupa, Tangerang. Penyaluran dilakukan dalam satu lokasi pengajian, tempat para santri berkumpul untuk belajar dan mendalami Al-Qur’an. Sebanyak 30 mushaf diserahkan kepada sekitar 30 santri, sebagai bentuk dukungan agar mereka memiliki sarana yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengaji. Jika dilihat sekilas, kegiatan ini mungkin hanya tampak sebagai penyerahan 30 mushaf. Namun, ada hal yang lebih besar di baliknya. Al-Qur’an bukan hanya dibaca sekali lalu disimpan. Di tempat pengajian, satu mushaf dapat menjadi teman dalam proses belajar yang dilakukan berulang kali. Halaman yang sama mungkin dibaca hari ini, kemudian diulang kembali esok hari. Satu ayat bisa menjadi bahan hafalan selama berhari-hari. Di sinilah sebuah wakaf memiliki makna yang berbeda. Nilai sebuah mushaf tidak hanya terletak pada saat ia diberikan, tetapi juga pada manfaat yang diharapkan terus hadir setelahnya. Para santri yang menerima bantuan ini merupakan bagian dari kegiatan pengajian di Cikupa. Mereka berkumpul dalam satu majelis untuk belajar membaca dan mendalami kalam Allah SWT. Dengan adanya tambahan mushaf Al-Qur’an, kegiatan belajar diharapkan dapat berlangsung dengan lebih baik. Dalam kegiatan tersebut, tim Yayasan Indonesia Uluran Tangan membawa amanah dari para donatur untuk disampaikan langsung kepada para penerima manfaat. Sebanyak 30 mushaf Al-Qur’an disalurkan kepada sekitar 30 santri pengajian di Cikupa, Tangerang. Penyaluran dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung kegiatan pendidikan dan pembelajaran Al-Qur’an. Momen penyerahan bantuan berlangsung di tempat para santri biasa berkumpul dan mengaji. Justru dari satu tempat sederhana itulah, harapan tentang keberlanjutan manfaat wakaf Al-Qur’an tumbuh. Salah seorang perwakilan penerima manfaat menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang telah diberikan. “Alhamdulillah, pada malam hari ini kami mendapat bantuan berupa donasi Al-Qur’an dari Yayasan Indonesia Uluran Tangan. Terima kasih, kami mendapat bantuan 30 donasi Al-Qur’an. Mudah-mudahan Ulur Tangan dan donatur mendapatkan keberkahan, kelancaran rezeki, dan keberkahan dari Allah SWT. Terima kasih yang sebanyak-banyaknya.” Ucapan sederhana tersebut menjadi bentuk rasa syukur sekaligus doa bagi para Sahabat Kebaikan yang telah ikut mengambil bagian. Ada perbedaan antara memberikan sesuatu yang selesai digunakan dalam sehari dengan memberikan sesuatu yang dapat digunakan berulang kali. Sebuah paket makanan, misalnya, dapat membantu memenuhi kebutuhan pada hari itu. Sementara mushaf Al-Qur’an memiliki fungsi yang berbeda. Ia dapat terus digunakan sebagai sarana membaca, belajar, menghafal, dan mengajarkan Al-Qur’an. Karena itu, wakaf Al-Qur’an tidak selalu harus dilihat dari jumlah mushaf semata. Yang juga penting adalah bagaimana mushaf tersebut dapat digunakan dan memberi manfaat bagi penerimanya. Bagi seorang santri, memiliki akses terhadap mushaf yang layak dapat mendukung proses belajarnya. Dari huruf demi huruf yang dipelajari, bacaan yang diperbaiki, hingga ayat yang perlahan dihafalkan. Tidak semua hasil dari proses itu dapat terlihat dalam satu hari. Tetapi pendidikan memang sering kali bekerja dalam diam. Apa yang dipelajari hari ini bisa menjadi kebiasaan di masa depan. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim) Hadis tersebut mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menghadirkan kebaikan yang manfaatnya dapat terus dirasakan. Wakaf Al-Qur’an dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk menghadirkan manfaat tersebut. Ketika mushaf digunakan untuk membaca dan belajar, kita berharap bantuan yang diberikan tidak berhenti pada momen penyerahan. Tentu hanya Allah SWT yang mengetahui dan menentukan pahala setiap amal. Namun sebagai manusia, kita dapat terus berusaha melakukan kebaikan dan berharap agar setiap ikhtiar tersebut diterima serta memberikan manfaat bagi orang lain. Kegiatan di Cikupa ini juga mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, sebuah kegiatan belajar dapat terus berlangsung karena tersedia sarana yang memadai. Sebuah mushaf yang tersedia di hadapan santri dapat menjadi bagian dari proses mereka mengenal Al-Qur’an lebih dekat. Hari ini mereka mungkin belajar membaca satu halaman. Besok, mereka mengulanginya kembali. Sebagian mungkin mulai menghafal. Sebagian lainnya masih belajar mengenali tajwid dan memperbaiki bacaan. Semua proses tersebut membutuhkan waktu. Karena itu, ketika 30 mushaf disalurkan kepada para santri di satu tempat pengajian ini, yang diharapkan bukan hanya selesainya kegiatan distribusi. Lebih dari itu, semoga mushaf-mushaf tersebut benar-benar digunakan dan menjadi bagian dari perjalanan belajar mereka. Alhamdulillah, penyaluran wakaf Al-Qur’an ini dapat terlaksana berkat dukungan para donatur dan Sahabat Kebaikan yang telah mempercayakan sebagian rezekinya melalui Yayasan Indonesia Uluran Tangan. Bagi tim relawan, proses penyaluran bukan sekadar menyerahkan bantuan. Ada amanah yang harus dijaga hingga sampai kepada penerima manfaat. Sebanyak 30 mushaf kini telah berada di tempat pengajian di Cikupa, Tangerang, dan siap digunakan oleh para santri dalam kegiatan belajar mereka. Semoga bantuan tersebut memberikan manfaat dan semakin menguatkan semangat mereka untuk membaca, mempelajari, menghafal, serta mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. wakaf Al-Qur’an untuk santriwakaf 30 mushaf Al-Qur’an, distribusi Al-Qur’an Tangerang, santri pengajian Cikupa, bantuan Al-Qur’an, wakaf mushaf Al-Qur’an —– 🏩 Yayasan Indonesia Uluran TanganLayanan Umat l Donasi Dakwah l Zakat | Infaq l Shodaqoh l Sosial Fisabililllah 📡 Saluran Whatsapp 🖥️ Facebook 📷 Instagram 💽 Youtube 📱 Info & Konfirmasi:╰┈➤ 0821.4000.4011 – 0811.50.5000.70 Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Ulurtangan.com (@ulurtangancom)
Kenapa Banyak Orang di Semarang Memilih Donasi Baju Bekas Sedekah Pakaian Layak Melalui Yatim Ceria Store

Donasi Barang Seperti Baju Bekas atau Sedekah Pakaian Layak di Semarang melalui Toko Sosial Yatim Ceria Store dapat disalurkan melalui cara mudah. Hubungi Ulurtangan.com
Kenapa Banyak Orang di Solo Memilih Donasi Baju Bekas Sedekah Pakaian Layak Melalui Yatim Ceria Store

Donasi Barang Seperti Baju Bekas atau Sedekah Pakaian Layak di Solo melalui Toko Sosial Yatim Ceria Store dapat disalurkan melalui cara mudah. Hubungi Ulurtangan.com
Kenapa Banyak Orang di Surabaya Memilih Donasi Baju Bekas Sedekah Pakaian Layak Melalui Yatim Ceria Store

Donasi Barang Seperti Baju Bekas atau Sedekah Pakaian Layak di Surabaya melalui Toko Sosial Yatim Ceria Store dapat disalurkan melalui cara mudah. Hubungi Ulurtangan.com
Kenapa Banyak Orang di Bandung Memilih Donasi Baju Bekas Sedekah Pakaian Layak Melalui Yatim Ceria Store

Donasi Barang Seperti Baju Bekas atau Sedekah Pakaian Layak di Bandung melalui Toko Sosial Yatim Ceria Store dapat disalurkan melalui cara mudah. Hubungi Ulurtangan.com
Kenapa Banyak Orang di Karawang Memilih Donasi Baju Bekas Sedekah Pakaian Layak Melalui Yatim Ceria Store

Donasi Barang Seperti Baju Bekas atau Sedekah Pakaian Layak di Karawang melalui Toko Sosial Yatim Ceria Store dapat disalurkan melalui cara mudah. Hubungi Ulurtangan.com
Kenapa Banyak Orang di Tangerang Memilih Donasi Baju Bekas Sedekah Pakaian Layak Melalui Yatim Ceria Store

Donasi Barang Seperti Baju Bekas atau Sedekah Pakaian Layak di Tangerang melalui Toko Sosial Yatim Ceria Store dapat disalurkan melalui cara mudah. Hubungi Ulurtangan.com
Kenapa Banyak Orang di Depok Memilih Donasi Baju Bekas Sedekah Pakaian Layak Melalui Yatim Ceria Store

Donasi Barang Seperti Baju Bekas atau Sedekah Pakaian Layak di Depok melalui Toko Sosial Yatim Ceria Store dapat disalurkan melalui cara mudah. Hubungi Ulurtangan.com
Kenapa Banyak Orang di Bogor Memilih Donasi Baju Bekas Sedekah Pakaian Layak Melalui Yatim Ceria Store

Donasi Barang Seperti Baju Bekas atau Sedekah Pakaian Layak di Bogor melalui Toko Sosial Yatim Ceria Store dapat disalurkan melalui cara mudah. Hubungi Ulurtangan.com