Edit Template
Ada perjuangan yang tidak terdengar karena tidak pernah dikeluhkan. Ia hadir dalam suara roda becak yang terus berputar, langkah seorang pemulung menyusuri jalan, dan kayuhan sepeda di bawah matahari yang menyengat. Pada Jumat, 18 September 2026, Yayasan Indonesia Uluran Tangan berbagi paket makanan kepada sejumlah pejuang nafkah di jalan dan masyarakat membutuhkan di Bekasi. Di balik bantuan yang sederhana itu, tersimpan satu kenyataan: bagi sebagian orang, bekerja di usia senja bukan lagi soal mengejar keinginan, melainkan tentang memastikan kebutuhan hari ini tetap terpenuhi.

Ada orang-orang yang setiap pagi tidak sedang mengejar target kantor, rapat, atau kenaikan jabatan. Mereka hanya mengejar satu hal yang jauh lebih sederhana: cukup uang untuk membawa pulang sesuatu bagi keluarga hari itu.

Pada Jumat, 18 September 2026, tim Yayasan Indonesia Uluran Tangan kembali turun ke sejumlah titik di Bekasi dalam kegiatan Jumat Berkah. Beberapa paket makanan dibagikan kepada para pejuang nafkah yang ditemui di jalan, mulai dari tukang becak, pemulung, hingga masyarakat yang sedang membutuhkan.

Namun, ada satu pemandangan yang membuat kegiatan sederhana ini terasa berbeda. Di antara lalu lintas dan panasnya jalanan, masih terlihat orang-orang yang seharusnya mungkin sudah menikmati waktu istirahat di usia senja, tetapi justru tetap mengayuh sepeda, mendorong becak, atau membawa barang dari satu tempat ke tempat lain.

Bagi sebagian orang, usia yang semakin bertambah mungkin berarti mengurangi aktivitas dan menikmati lebih banyak waktu bersama keluarga. Tetapi bagi pekerja informal di jalan, keadaan tidak selalu memberi pilihan yang sama.

Terik matahari tidak otomatis membuat kebutuhan rumah tangga berhenti. Harga makanan tetap harus dipenuhi. Kebutuhan keluarga tetap berjalan. Karena itu, sebagian dari mereka tetap bekerja meski tenaga sudah tidak sekuat dahulu.

Di lapangan, tim menemukan para tukang becak dan pemulung yang menjalani aktivitasnya di bawah panas matahari. Mereka mengayuh sepeda atau membawa barang dengan kemampuan fisik yang tersisa, sementara penghasilan yang diperoleh pun tidak selalu dapat dipastikan setiap hari.

Di sinilah sebuah sudut pandang sederhana sering terlewat. Ekonomi kurang tidak selalu terlihat dari seseorang yang meminta-minta. Ada pula orang yang terlihat sedang bekerja keras, tetapi sebenarnya hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas.

Mereka tidak datang meminta bantuan. Mereka tetap berusaha mendapatkan penghasilan dengan tenaga sendiri. Namun, ketika kesempatan untuk mendapatkan penghasilan terbatas sementara kebutuhan terus berjalan, dukungan kecil dari orang lain dapat menjadi bentuk kepedulian yang berarti.

Paket makanan yang disalurkan dalam kegiatan Jumat Berkah mungkin terlihat sederhana. Tidak ada nominal besar yang harus disebutkan. Tidak ada pembangunan fisik yang dapat langsung terlihat bertahun-tahun kemudian.

Tetapi bagi seseorang yang sedang bekerja sejak pagi, makanan dapat berarti jeda sejenak dari aktivitas. Ada kesempatan untuk mengisi tenaga sebelum kembali mengayuh becak, mengumpulkan barang bekas, atau melanjutkan perjalanan mencari penghasilan.

Yang juga penting adalah cara bantuan itu diberikan. Mereka tetap ditemui sebagai manusia yang sedang berjuang, bukan sekadar sebagai “penerima bantuan”. Ada penghormatan terhadap usaha mereka untuk tetap mandiri.

Dalam Al-Qur’an, Allah memberikan perumpamaan tentang orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan setiap tangkai memiliki seratus biji. Ayat tersebut terdapat dalam QS Al-Baqarah ayat 261.

Pesan yang menarik bukan sekadar tentang banyaknya balasan. Ayat itu juga mengajarkan cara melihat sebuah pemberian: sesuatu yang tampak kecil di tangan manusia dapat memiliki nilai yang jauh lebih besar di sisi Allah.

Hal serupa juga ditegaskan dalam hadis sahih riwayat Muslim. Rasulullah SAW bersabda bahwa sedekah tidak mengurangi harta. Hadis ini bukan janji bahwa seseorang pasti menjadi lebih kaya setelah bersedekah, melainkan pengingat tentang nilai dan keberkahan memberi dalam ajaran Islam.

Karena itu, berbagi tidak selalu harus menunggu seseorang memiliki kelebihan yang besar. Ada kalanya kebaikan justru hadir melalui sesuatu yang sederhana: makanan, perhatian, sapaan, atau bantuan yang diberikan pada saat seseorang sedang membutuhkannya.

Momen paling berkesan dari kegiatan ini bukan sekadar ketika paket makanan berpindah dari tangan relawan kepada penerima. Yang lebih membekas adalah melihat bagaimana para pejuang nafkah tersebut tetap menjalankan aktivitasnya di tengah kondisi yang tidak mudah.

Seorang penerima menyampaikan kalimat singkat setelah menerima bantuan, “Terima kasih semoga sehat selalu rezekinya lancar dan berkah selalu.”

Tidak panjang. Tidak dibuat-buat. Tetapi justru karena sederhana, kalimat tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Orang yang sedang berjuang mencari nafkah ternyata masih sempat mendoakan orang lain yang membantunya.

Ada sebuah pelajaran sosial di sana: orang yang menerima bantuan hari ini bukan berarti tidak memiliki sesuatu untuk diberikan. Mereka mungkin tidak memiliki banyak uang, tetapi masih dapat memberikan doa, senyum, dan rasa terima kasih.

Pendekatan seperti ini menjadi bagian penting dalam kegiatan sosial. Bantuan seharusnya tidak membuat seseorang merasa lebih rendah. Sebaliknya, bantuan dapat menjadi bentuk solidaritas antarsesama.

Melalui program Jumat Berkah, Yayasan Indonesia Uluran Tangan berupaya menghadirkan bantuan makanan secara langsung kepada masyarakat yang ditemui dalam kondisi membutuhkan, termasuk para pekerja informal di jalan.

Kegiatan pada 18 September 2026 di Bekasi menjadi salah satu bentuk nyata dari upaya tersebut. Bantuan disalurkan kepada beberapa penerima dari kalangan tukang becak, pemulung, dan masyarakat membutuhkan.

Sering kali kita hanya melihat hasil akhir dari sebuah pekerjaan. Kita melihat seseorang pulang membawa uang, tetapi tidak melihat berapa lama ia harus berada di bawah matahari untuk mendapatkannya.

Kita melihat becak yang lewat, tetapi mungkin tidak berpikir bahwa di balik kayuhan itu ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Kita melihat seseorang membawa barang bekas, tetapi tidak selalu mengetahui bahwa pekerjaan tersebut menjadi salah satu jalan yang tersedia untuk mempertahankan kehidupan.

Mungkin karena itu, kepedulian tidak harus selalu dimulai dari pertanyaan, “Berapa besar yang bisa saya berikan?” Pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah, “Siapa yang bisa saya bantu hari ini dengan kemampuan yang saya punya?”

Pembaca yang ingin ikut mengambil bagian dapat memulainya dari hal yang sederhana. Membantu kebutuhan makanan, memperhatikan pekerja informal di sekitar lingkungan, atau mendukung program sosial yang memiliki penyaluran jelas merupakan beberapa bentuk kepedulian yang dapat dilakukan.

Bagi Yayasan Indonesia Uluran Tangan, kegiatan Jumat Berkah bukan hanya tentang membagikan paket makanan. Ada upaya untuk mempertemukan amanah para donatur dengan mereka yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup.

Sebab, mungkin kita tidak dapat mengubah seluruh keadaan seseorang dalam satu hari. Tetapi kita tetap dapat membuat satu hari terasa sedikit lebih ringan.

Dan ketika suatu hari nanti kita kembali melewati jalan yang sama, mungkin yang kita lihat bukan lagi sekadar seorang tukang becak atau pemulung yang sedang bekerja. Kita mungkin akan melihat seorang manusia yang sedang berjuang mempertahankan keluarganya—dan pernah kita bantu melalui satu kebaikan kecil.

LANDASAN KEBAIKAN

“Dari Sepiring Makanan, Al-Qur’an Mengajarkan Arti Ketulusan”

Allah SWT berfirman:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ۝٨ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا ۝٩

““Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.” ”

(QS. Al-Insan: 8–9)
Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ۝٢٦١

““Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” ”

(QS. Al-Baqarah: 261)
Sedekah Jum'at Berkah: Berbagi Paket Makan & Pakaian untuk Santri, Jamaah dan Pejuang Nafkah
SALURKAN KEBAIKAN

Donasi Program Jumat Berkah

Donasi dapat disalurkan dengan mudah melalui metode pembayaran yang tersedia atau melalui rekening resmi Yayasan Indonesia Uluran Tangan.

01
Klik Donasi Sekarang
02
Pilih nominal donasi
03
Pilih metode pembayaran
04
Lengkapi data diri
05
Selesaikan transaksi sesuai metode pembayaran
a/n Yayasan Indonesia Uluran Tangan
Info & Konfirmasi
0821 4000 4011

Catatan

Demi menjaga amanah dan ketertiban pengelolaan donasi, kami mohon kesediaannya untuk melakukan konfirmasi setiap transaksi donasi.

Konfirmasi ini membantu kami memastikan donasi tersalurkan sesuai niat dan peruntukannya.

Apabila belum ada konfirmasi, donasi bisa saja dikelola untuk program sosial lain yang paling membutuhkan, agar manfaatnya tetap segera dirasakan oleh umat.

Jazakumullahu khairan katsiran atas kepercayaan dan amanah yang dititipkan. Semoga Allah membalas dengan keberkahan dan pahala terbaik.
ULURKAN KEBAIKAN

Ikuti Kami & Bagikan Kebaikan

Ikuti aktivitas dan perkembangan program Ulur Tangan melalui media sosial kami. Bagikan informasi kebaikan ini agar semakin banyak orang dapat mengetahui, terlibat, dan mengambil bagian.

♥ Terima kasih telah ikut menyebarkan kebaikan.
Edit Template
Edit Template