Bekasi, 22 September 2026 — Sebuah buku yang sudah selesai dibaca atau pakaian yang tak lagi dikenakan mungkin terlihat tidak berguna bagi pemiliknya. Namun, melalui Gerakan Sekolah Berbagi, siswa, guru, dan wali murid SD Islam Annajah Bekasi belajar bahwa barang tersebut masih dapat menemukan manfaat baru ketika diberikan kepada orang lain.
Ada barang di rumah yang sudah lama tidak disentuh, tetapi sebenarnya belum selesai masa manfaatnya. Ia hanya berhenti berguna bagi pemilik pertama. Ketika diberikan kepada orang lain, benda yang sama bisa kembali memiliki fungsi. Dari cara pandang sederhana inilah, sebuah pelajaran tentang kepedulian justru dapat dimulai.
Pada 22 September 2026, gagasan tersebut hadir dalam Gerakan Sekolah Berbagi di SD Islam Annajah Bekasi. Siswa, guru, dan wali murid bersama-sama mengumpulkan pakaian, buku, serta berbagai barang yang sudah tidak digunakan, tetapi masih layak dan memiliki manfaat. Barang-barang tersebut kemudian dititipkan melalui program Sedekah Barangku dari Ulurtangan.com untuk diteruskan manfaatnya.
Bagi sebagian orang, memilah barang yang sudah tidak digunakan mungkin hanya bagian dari merapikan rumah. Namun, ketika proses itu dilakukan bersama anak-anak, maknanya berubah. Mereka tidak sekadar belajar memilih mana yang masih layak dan mana yang tidak. Mereka juga belajar bertanya: jika saya tidak lagi membutuhkan benda ini, apakah orang lain masih dapat memanfaatkannya?
Pertanyaan sederhana tersebut memperkenalkan sudut pandang yang jarang muncul dalam pembelajaran sehari-hari. Nilai sebuah barang ternyata tidak selalu ditentukan oleh pemiliknya. Sebuah buku yang sudah selesai dibaca, misalnya, belum tentu kehilangan manfaat. Pakaian yang tidak lagi dikenakan juga belum tentu menjadi barang yang harus dibuang. Ada kemungkinan manfaatnya hanya sedang menunggu berpindah tangan.
Di sinilah Gerakan Sekolah Berbagi menjadi lebih dari sekadar kegiatan pengumpulan barang. Ada proses pendidikan karakter yang berlangsung secara alami. Anak-anak diperkenalkan pada gagasan bahwa memiliki sesuatu juga berarti memiliki kesempatan untuk memberikan manfaat. Mereka belajar bahwa berbagi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar, baru, atau mahal.
Setiap hari, siswa datang kesekolah untuk belajar membaca, berhitung, mengenal berbagai ilmu, serta mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Namun, pendidikan tidak hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang mampu diingat. Ada nilai yang perlu dialami agar tidak berhenti sebagai teori, salah satunya adalah kepedulian terhadap sesama.
Semangat tersebut sejalan dengan salah satu misi SD Islam Annajah untuk membentuk pribadi yang peduli dan memberikan manfaat bagi sesama. Ibu Eva, Kepala Sekolah SD Islam Annajah, menjelaskan bahwa Gerakan Sekolah Berbagi menjadi salah satu cara sekolah menanamkan nilai tersebut kepada anak-anak.
“Misi sekolah kami salah satunya adalah membentuk pribadi yang peduli, memberikan manfaat bagi sesama melalui Gerakan Sekolah Berbagi. Bekerja sama dengan Ulurtangan, tentunya kami sangat ingin menguatkan kepedulian. Kami selalu mengajarkan bahwa ada harta yang kita miliki, ada hak orang lain. Melalui Gerakan Sekolah Berbagi, satu barang, berbagi kebaikan, manfaat untuk sesama.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa berbagi ditempatkan sebagai bagian dari pembentukan kebiasaan, bukan sekadar kegiatan sosial yang dilakukan sesekali. Anak-anak diajak memahami bahwa kepedulian dapat hadir melalui sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka. Bahkan barang yang sudah tidak digunakan di rumah pun dapat menjadi sarana untuk belajar memberi.
Peran keluarga juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Barang yang terkumpul berasal dari lingkungan keluarga, sehingga proses berbagi sebenarnya sudah dimulai sebelum anak membawanya ke sekolah. Ada keputusan kecil yang terjadi di rumah: memilah, memilih, membersihkan, lalu merelakan barang yang masih layak untuk diberikan kepada orang lain.
Ketika kebiasaan tersebut kemudian dilakukan bersama oleh siswa, guru, dan wali murid, muncul pengalaman kolektif yang berbeda. Anak melihat bahwa berbagi bukan hanya sesuatu yang dilakukan oleh orang dewasa. Teman-temannya ikut mengambil bagian. Guru ikut mendukung. Keluarga pun terlibat. Dari sana, kepedulian menjadi sesuatu yang nyata dan dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari.
Mamh Zahir, Komite SD Islam Annajah Bekasi, juga menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, Gerakan Sekolah Berbagi bukan hanya mengajarkan anak-anak untuk memberikan sesuatu, tetapi juga membantu menumbuhkan empati dan kebersamaan.
“Saya sangat bersyukur melalui Gerakan Sekolah Berbagi karena ini merupakan kegiatan positif yang penuh makna. Gerakan ini bukan hanya sekedar berbagi, tetapi menumbuhkan rasa kepedulian dan kebersamaan. Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena bisa mengajarkan anak-anak untuk memiliki rasa empati terhadap sesama. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menginspirasi semuanya.”
Ada satu hal menarik dari gerakan ini: anak-anak belajar bahwa sedekah tidak selalu identik dengan uang. Sesuatu yang dimiliki dan masih bermanfaat juga dapat menjadi bentuk kepedulian ketika diberikan dengan niat baik. Pemahaman ini penting karena membuat kegiatan berbagi terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” Pesan tersebut menemukan bentuk sederhananya melalui kegiatan di sekolah. Anak-anak tidak hanya mendengar tentang pentingnya berbuat baik, tetapi melihat bagaimana barang dari rumah dapat dikumpulkan dan diteruskan agar manfaatnya tidak berhenti pada satu keluarga.
Melalui program Sedekah Barangku, Ulurtangan.com menjadi bagian dari proses meneruskan barang-barang tersebut. Setelah dikumpulkan, barang diangkut untuk kemudian dikelola dan disalurkan sesuai kebutuhan. Dengan demikian, kegiatan yang dimulai dari rumah dapat memiliki perjalanan yang lebih panjang sebelum akhirnya sampai kepada pihak yang membutuhkan.
Pada akhirnya, nilai utama Gerakan Sekolah Berbagi bukan hanya terletak pada jumlah barang yang berhasil dikumpulkan. Ada sesuatu yang tidak mudah dihitung, tetapi justru menjadi bagian penting dari kegiatan ini pengalaman anak-anak ketika belajar melepaskan sesuatu yang masih memiliki nilai untuk diberikan kepada orang lain.
Mungkin bagi orang dewasa, tindakan tersebut terlihat sederhana. Namun, bagi seorang anak, pengalaman itu dapat menjadi bagian dari pembentukan cara pandang mereka terhadap kehidupan. Bahwa tidak semua yang sudah tidak kita gunakan harus berakhir sebagai sesuatu yang dibuang. Ada barang yang dapat menemukan kehidupan kedua, dan ada kebaikan yang dapat tumbuh ketika seseorang bersedia berbagi.
Karena itu, cerita dari SD Islam Annajah Bekasi layak dilihat bukan hanya sebagai dokumentasi sebuah kegiatan sekolah. Ia menjadi contoh bahwa pendidikan karakter dapat dimulai dari hal yang sangat dekat dengan kehidupan anak. Satu pakaian, satu buku, atau satu barang layak pakai dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
Gerakan seperti ini juga membuka ruang bagi sekolah lain untuk mengambil langkah serupa. Tidak harus dimulai dengan kegiatan besar. Sekolah dapat mengajak siswa dan wali murid memilah barang yang sudah tidak digunakan, memastikan kondisinya masih layak, kemudian mencari jalur penyaluran yang tepat agar barang tersebut benar-benar dapat diteruskan manfaatnya.
Dari satu rumah, kemudian satu keluarga. Dari satu kelas, kemudian satu sekolah. Ketika dilakukan bersama, kebiasaan kecil dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Inilah semangat yang ingin dibawa melalui Gerakan Sekolah Berbagi: menjadikan sekolah bukan hanya tempat anak-anak mempelajari ilmu, tetapi juga ruang untuk mempraktikkan nilai yang mereka pelajari.
Terima kasih kepada SD Islam Annajah Bekasi, para guru, siswa, komite sekolah, dan wali murid yang telah mengambil bagian dalam kegiatan pada 22 September 2026. Apa yang dilakukan mungkin terlihat sederhana, tetapi sebuah pengalaman sederhana dapat meninggalkan pelajaran yang panjang ketika ditanamkan sejak masa kanak-kanak.
Sebab, barangkali anak-anak tidak akan mengingat satu per satu barang yang pernah mereka kumpulkan ketika dewasa nanti. Namun, mereka bisa saja mengingat satu pemahaman yang pernah tumbuh di sekolah: sesuatu yang sudah tidak kita gunakan belum tentu kehilangan nilainya bagi orang lain.
Dan dari pemahaman itulah, semangat berbagi dapat terus diteruskan. Satu sekolah memulai. Sekolah lainnya mengikuti. Barang berpindah, manfaat berlanjut, dan anak-anak belajar bahwa ilmu yang mereka pelajari akan menjadi lebih berarti ketika hadir dalam kehidupan nyata.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk-buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Dan mereka mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan.”
Donasi dapat disalurkan dengan mudah melalui metode pembayaran yang tersedia atau melalui rekening resmi Yayasan Indonesia Uluran Tangan.
Demi menjaga amanah dan ketertiban pengelolaan donasi, kami mohon kesediaannya untuk melakukan konfirmasi setiap transaksi donasi.
Konfirmasi ini membantu kami memastikan donasi tersalurkan sesuai niat dan peruntukannya.
Apabila belum ada konfirmasi, donasi bisa saja dikelola untuk program sosial lain yang paling membutuhkan, agar manfaatnya tetap segera dirasakan oleh umat.
Ikuti aktivitas dan perkembangan program Ulur Tangan melalui media sosial kami. Bagikan informasi kebaikan ini agar semakin banyak orang dapat mengetahui, terlibat, dan mengambil bagian.