Berkah Jum’at ke-184: Ulurtangan Berbagi Makan Untuk Santri Yatim & Dhuafa di Rumah Tahfidz Al-Mubarok Bekasi

Berkah Jum’at ke-184: Ulurtangan Berbagi Makan untuk Santri Yatim & Dhuafa di Rumah Tahfidz Al-Mubarok Bekasi Bekasi, (Ulurtangan) – Alhamdulillah Program Sedekah Jum’at berkah Ulur Tangan yang ke-184 berjalan lancar khikmat dan barokah. Puluhan santri yatim dan dhuafa taman Qur’ani Al-Mubarok Bekasi begitu antusias ketika relawan Ulur Tangan hadir di komplek taman Qur’an Al-Mubarok pada hari Jum’at (13/01/2023). Relawan Ulur Tangan kembali berbagi paket makanan siap saji untuk para santri yatim dan dhuafa Penghafal Al-Qur’an. Rumah Tahfidz taman Qur’an ini menampung puluhan santri putra putri yatim dan dhuafa untuk di didik menjadi anak yang shaleh shalehah menjadi penghafal Al-Qur’an. Menurut Ustadzah Miladiya Nursyifa selaku engurus Rumah tahfidz taman Qur’ani Al-Mubarok pulahan santri di sini hampir 90 % yatim dan sebagian dhuafa. Para santri disini keseluruhan tinggal dan beraktivitas di lingkungan Rumah tahfidz mulai dari sekolah dan kegiatan murajaah hafalan setoran. Beberapa santri yang sudah Hafidz di kirim ke daerah untuk mengamalkan ilmu yang telah di dapatkan. Melalui Program Sedekah Jum’at Barokah, Ulur Tangan kembali berkesempatan berbagi kepada santri yatim dan dhuafa Taman Qur’an Al-Mubarok dengan membawa paket makanan siap saji yang dibagikan seusai melaksanan Shalat Jum’at. Dengan menu spesial. Ustadzah Miladiya Nursyifa sebagai pengurus Rumah tahfidz Taman Qur’ani Al-Mubarok mengucapkan terimakasih kepada Yayasan Ulur Tangan dan donator yang telah berbagi di hari jum’at yang penuh berkah ini. “Assalamu’alaikum, saya mewakili pengurus Rumah Tahfidz Yaman Qur’an Al-Mubarok mengucapkan jazakumullah kepada  tim Ulur Tangan dan para donatur yang telah berbagi makan siang kepada santri disini, Semoga apa yang diberikan menjadi amal shaleh, di mudahkan rizkinya, keruarganya Sakinah mawahdah bagi yang memberi dan dibalas dengan kebaikan oleh Allah SWT.” Ungkap beliau. Tebar makanan siap saji ini merupakan bagian dari Program Sedekah Jum’at Yayasan Ulur Tangan yang Insyaa Allah rutin diadakan setiap hari jum’at untuk dibagikan di masjid-masjid, pondok pesantren, pemukiman kumuh, kaum dhuafa dan fakir miskin. Semoga di Hari yang penuh Berkah ini segala amalan kita diterima oleh Allah SWT amiin ya robbal alamiin. HANYA DENGAN 20 RIBU RUPIAH, RAIH KEBERKAHAN DAN PAHALA BERLIPAT Hanya dengan bersedekah sebesar Rp 20.000,– (dua puluh ribu rupiah) kita sudah ikut serta memberi makan dan membahagiakan kaum muslimin, meraih banyak keutamaan dan garansi kebahagiaan surga. 1. Salah satu amalan orang baik (Al-Abrar) dan golongan kanan (ashabul maimanah) Ahli Surga adalah gemar bersedekah makanan kepada yatim, kaum dhuafa dan orang yang kelaparan. وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا “Dan mereka memberikan makanan yang dia sukai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan perang” (Qs Al-Insan 8). أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ “Atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir” (Qs Al-Balad 14-16). 2. Sedekah makanan dan minuman di dunia akan diganti dengan makanan, buah-buahan dan minuman surgawi. أَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ سَقَاهُ اللَّهُ مِنَ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ “…Muslim mana saja yang memberi makan orang Islam yang kelaparan, niscaya Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan di surga. Dan muslim mana saja yang memberi minum orang yang kehausan, niscaya Allah akan memberinya minuman dari Ar-Rahiq Al-Makhtum” (HR Abu Daud dari Abu Said Al-Khudri RA). 3. Berbagi makanan dan minuman adalah amalan terbaik yang dicintai Allah Ta’ala: أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا “…Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah memberikan kebahagiaan kepada seorang muslim, atau menghilangkan kesusahannya, atau melunasi utangnya, atau menghilangkan kelaparannya” (HR At-Thabrani). عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ “Dari Abdullah bin ‘Amr RA, bahwasanya seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Apakah amalan Islam yang terbaik?’ Nabi menjawab: memberikan makanan, mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal” (HR Bukhari dan Muslim). 4. Sedekah makanan adalah salah satu amalan yang melapangkan jalan ke surga. يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَفْشُوا السَّلاَمَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بِسَلاَم “Wahai manusia! terbarkan salam, berilah makan, shalatlah saat manusia tidur maka kalian akan masuk surga dengan penuh kesejahteraan” (HR Tirmidzi). 5. Orang yang gemar bersedekah makanan sudah disiapkan kavling di surga. إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا. فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang Arab Baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi SAW menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur” (HR Tirmidzi). —–  Yayasan Indonesia Uluran TanganLayanan Umat l Donasi Dakwah l Zakat | Infaq l Shodaqoh l Sosial Fisabililllah  Saluran Whatsapp  Facebook  Instagram  Youtube  Info & Konfirmasi:╰┈➤ 0821.4000.4011 – 0811.50.5000.70

Siapa Ibnu Sina? Mengenal Ilmuwan Muslim yang Dikenal Sebagai Bapak Kedokteran

Siapa Ibnu Sina? Mengenal Ilmuwan Muslim yang Dikenal Sebagai Bapak Kedokteran 29 Agustus 2026 Dakwah/Inspiratif Siapa Ibnu Sina? Kenali perjalanan hidup, pemikiran, karya Canon of Medicine, serta kontribusi ilmuwan Muslim ini terhadap perkembangan ilmu kedokteran dan pendidikan. Ada sebuah pertanyaan sederhana yang menarik: mengapa nama seorang dokter yang hidup sekitar seribu tahun lalu masih muncul ketika orang membicarakan sejarah kedokteran hari ini? Namanya Ibnu Sina, atau Avicenna dalam tradisi Barat. Ia hidup sekitar 980–1037 dan dikenal sebagai salah satu filsuf sekaligus dokter paling berpengaruh dalam dunia Islam. Pengaruhnya bahkan tidak berhenti di wilayah Timur. Karya medisnya diterjemahkan ke bahasa Latin dan digunakan dalam pendidikan kedokteran Eropa selama berabad-abad.  Namun, menyebut Ibnu Sina hanya sebagai “bapak kedokteran” sebenarnya membuat kisahnya terasa terlalu sederhana. Ia bukan hanya seorang tabib yang menulis tentang penyakit. Ia adalah seorang pemikir yang melihat ilmu sebagai sesuatu yang perlu dipelajari, disusun, diuji, dan diwariskan. Dari sinilah kisahnya menjadi relevan bahkan bagi kita yang hidup di zaman teknologi medis modern. Siapa Ibnu Sina? Ibnu Sina bernama lengkap Abu Ali al-Husayn ibn Abd Allah ibn Sina. Ia lahir sekitar 980 dan wafat pada 1037. Dalam sejarah intelektual, ia dikenal sebagai seorang polymath, seseorang yang menguasai lebih dari satu bidang ilmu. Selain kedokteran, pemikirannya mencakup filsafat, ilmu alam, dan berbagai cabang pengetahuan lainnya. Stanford Encyclopedia of Philosophy menyebutnya sebagai salah satu filsuf dan dokter paling menonjol dalam dunia Islam. Julukan yang melekat pada Ibnu Sina memang beragam, tetapi pengaruhnya dalam sejarah kedokteran terutama berkaitan dengan Al-Qanun fi al-Tibb, atau The Canon of Medicine. Buku ini bukan sekadar kumpulan resep. Ia merupakan ensiklopedia kedokteran yang menyusun pengetahuan medis pada zamannya secara sistematis, sekaligus memasukkan pengamatan dan pemikiran Ibnu Sina sendiri. Yang membuat perjalanan intelektual Ibnu Sina menarik adalah cara ia berada di persimpangan berbagai tradisi ilmu. Ilmu kedokteran pada dunia Islam saat itu berkembang melalui penerjemahan dan pengolahan karya-karya dari tradisi Yunani, Persia, India, dan lainnya. Para ilmuwan tidak hanya menyalin pengetahuan lama, tetapi mengolahnya menjadi karya yang lebih sistematis dan mengembangkan pengetahuan baru. Mengapa Ibnu Sina Disebut Bapak Kedokteran? Istilah “bapak kedokteran” perlu dipahami sebagai sebutan populer untuk menggambarkan pengaruh historisnya, bukan berarti Ibnu Sina adalah orang pertama yang menemukan ilmu kedokteran. Jauh sebelum dirinya, manusia telah memiliki tradisi pengobatan yang panjang. Kontribusi Ibnu Sina terletak antara lain pada bagaimana pengetahuan medis dikumpulkan dan disusun secara terstruktur. Canon of Medicine terdiri atas lima buku yang membahas prinsip-prinsip umum kedokteran, obat-obatan, penyakit pada organ, penyakit umum, serta formulasi pengobatan. Struktur tersebut membuat pengetahuan yang sangat luas menjadi lebih mudah dipelajari dan diwariskan.  Dalam sejarahnya, Canon of Medicine kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin dan menjadi bagian penting dari pendidikan kedokteran di Eropa. Stanford Encyclopedia of Philosophy mencatat bahwa terjemahan Latin Canon menjadi dasar pengajaran medis di universitas-universitas Eropa sampai berabad-abad setelahnya.  Canon of Medicine: Buku yang Melampaui Zamannya Bayangkan menyusun ensiklopedia kedokteran ketika belum ada laboratorium modern, pencitraan medis, komputer, atau basis data digital. Pengetahuan harus diperoleh melalui membaca, mengamati, berdiskusi, mencatat, dan membandingkan pengalaman.  Di tengah kondisi tersebut, Canon of Medicine menjadi karya yang sangat luas. National Library of Medicine mencatat bahwa buku tersebut merangkum pengetahuan kedokteran yang tersedia pada zamannya dan kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa. Karya itu juga berpengaruh besar terhadap pendidikan kedokteran di Eropa.  Penelitian sejarah kedokteran menunjukkan bahwa Canon menggabungkan pengetahuan dari tradisi sebelumnya dengan observasi dan refleksi Ibnu Sina. Karena itu, pengaruhnya bukan hanya berasal dari banyaknya informasi yang dikumpulkan, tetapi juga dari cara informasi tersebut disusun menjadi sebuah sistem pengetahuan.  Ibnu Sina dan Pentingnya Pengamatan Ada pelajaran yang sangat relevan dari kisah Ibnu Sina: ilmu tidak cukup hanya dihafalkan. Tradisi kedokteran pada dunia Islam berkembang melalui proses penerjemahan, pengajaran, pengamatan, dan pengembangan. Sejumlah kajian sejarah menyebut bahwa tradisi medis Islam pada masa itu semakin sistematis dalam pendidikan, rumah sakit, penulisan buku medis, dan praktik pengobatan.  Dalam karya Ibnu Sina sendiri, pengetahuan tentang kesehatan tidak dibatasi hanya pada penyakit. Canon membahas berbagai faktor yang berkaitan dengan kesehatan, termasuk makanan, air, udara, kebiasaan, aktivitas fisik dan mental, serta lingkungan. Ini menunjukkan cara berpikir yang melihat kesehatan dalam konteks yang lebih luas.  Tentu saja, kita tidak boleh menyamakan seluruh teori medis Ibnu Sina dengan kedokteran modern. Ilmu pengetahuan terus berkembang dan sebagian pandangan medis masa lalu telah ditinggalkan. Yang penting untuk dipelajari adalah tradisi berpikir dan usaha ilmiahnya dalam konteks zamannya. Islam dan Tradisi Mencari Ilmu Di sinilah kisah Ibnu Sina memiliki kaitan yang menarik dengan nilai Islam. Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap ilmu dan penggunaan akal. Salah satu ayat yang sering menjadi pengingat adalah QS. Az-Zumar ayat 9: “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Ayat tersebut tidak perlu dijadikan klaim bahwa semua teori ilmiah Ibnu Sina berasal langsung dari Al-Qur’an. Hubungannya lebih sederhana dan lebih jujur: Islam memberikan tempat penting bagi pengetahuan, sementara para ilmuwan Muslim dalam sejarah mengembangkan ilmu melalui berbagai tradisi intelektual yang tersedia pada zamannya. Peradaban ilmu tidak tumbuh dari satu sumber dalam ruang kosong. Para ilmuwan Muslim menerjemahkan, membaca, mengkritik, menyusun ulang, dan mengembangkan pengetahuan dari berbagai kebudayaan. Ibnu Sina adalah salah satu contoh paling kuat dari proses tersebut.  Ilmu yang Tidak Berhenti pada Satu Generasi Mungkin bagian paling menarik dari kisah Ibnu Sina justru bukan seberapa banyak buku yang ia tulis. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pengetahuannya diwariskan. Sebuah gagasan yang hanya tersimpan di kepala seseorang akan berhenti ketika orang tersebut berhenti mengajarkannya. Sebaliknya, ilmu yang ditulis, diajarkan, diterjemahkan, dan dikembangkan dapat melampaui usia penciptanya. Itulah yang terjadi pada Canon of Medicine. Karya tersebut berpindah bahasa dan wilayah, masuk ke lingkungan pendidikan Eropa, dan memengaruhi pembelajaran kedokteran selama berabad-abad. Kajian sejarah bahkan mencatat bahwa buku tersebut mengalami banyak edisi dan menjadi salah satu karya medis yang sangat berpengaruh pada periode tersebut. Dari Ibnu Sina, Kita Bisa Melihat Arti Penting Pendidikan Kisah Ibnu Sina pada akhirnya bukan hanya tentang masa lalu. Ia membawa kita pada pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sekarang: berapa banyak potensi manusia yang mungkin tidak pernah berkembang karena seseorang tidak memperoleh kesempatan belajar? Seorang anak yang mendapatkan buku mungkin belum

Merayakan Kemerdekaan, Menyambut Maulid Nabi, dan Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Yatim dan Dhuafa

Merayakan Kemerdekaan, Menyambut Maulid Nabi, dan Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak Yatim dan Dhuafa 27 Agustus 2026 Dakwah/Inspiratif Sedekah Barangku Ulurtangan.com mengajak 23 anak yatim dan dhuafa menikmati kebersamaan melalui perlombaan dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia dan menyambut bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ada satu hal yang sering terlupakan ketika berbicara tentang kegiatan sosial: kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Kadang, ia hadir ketika seorang anak berhasil memasukkan bola ke keranjang setelah beberapa kali mencoba. Kadang, ia terdengar dari tawa teman-temannya yang sedang berlari mengumpulkan bendera. Dan kadang, kebahagiaan itu lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana—kesempatan untuk bermain bersama tanpa merasa harus menjadi siapapun selain dirinya sendiri. Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan kebersamaan bersama 23 anak yatim dan dhuafa yang diselenggarakan Sedekah Barangku Ulurtangan.com. Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 sekaligus menyambut bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, sebuah hari diisi dengan permainan, perlombaan, tawa, kreativitas, dan kebersamaan yang sederhana, tetapi meninggalkan makna yang tidak sederhana. Ketika Kemerdekaan Dirayakan dengan Ruang untuk Bergembira Perayaan kemerdekaan sering identik dengan bendera, perlombaan, dan berbagai kegiatan masyarakat. Namun, dibalik semua itu, ada satu hal yang membuat sebuah perayaan terasa lebih hidup: kesempatan untuk merasakan kebersamaan. Bagi 23 anak yang hadir dalam kegiatan ini, hari tersebut bukan sekadar rangkaian perlombaan. Mereka datang, berkumpul, bermain, saling menyemangati, dan menikmati waktu bersama. Tidak ada tuntutan untuk selalu menjadi pemenang. Tidak ada yang harus menjadi paling hebat. Setiap anak memiliki ruang untuk mencoba, tertawa, dan menikmati proses. Di situlah kegiatan sederhana bisa memiliki arti yang lebih luas. Kemerdekaan tidak hanya dikenang sebagai sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga dihadirkan dalam pengalaman sehari-hari: kebebasan untuk berekspresi, kesempatan untuk bermain, dan ruang untuk tumbuh bersama. Lomba Menggambar: Ketika Warna Menjadi Cara Anak Bercerita Keseruan dimulai dari lomba menggambar. Anak-anak duduk dengan kertas dan warna di hadapan mereka, lalu mulai menuangkan apa yang ada dalam imajinasi masing-masing. Ada yang terlihat sangat fokus menyelesaikan gambarnya. Ada pula yang sesekali melihat ke sekeliling, seolah mencari inspirasi sebelum kembali melanjutkan goresan. Tidak semua gambar sama, dan justru di situlah letak menariknya. Setiap karya menjadi cara yang berbeda untuk melihat dunia. Satu anak mungkin memilih warna-warna cerah, sementara yang lain lebih sibuk menyusun detail kecil. Kegiatan menggambar mengingatkan bahwa anak-anak tidak selalu membutuhkan ruang untuk diarahkan. Terkadang, mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk diberi ruang. Berlari Mengumpulkan Bendera dan Belajar Menikmati Proses Setelah itu, suasana berubah menjadi lebih riuh melalui lomba lari mengumpulkan bendera. Anak-anak berlari bolak-balik dengan penuh semangat untuk mengambil dan mengumpulkan bendera. Ada yang bergerak sangat cepat menuju garis akhir. Ada yang harus mengatur kembali langkahnya. Namun, keseruan kegiatan ini ternyata tidak hanya terletak pada siapa yang paling cepat. Sorak-sorai dan semangat dari teman-teman di sekitar membuat perlombaan terasa sebagai pengalaman bersama. Anak-anak belajar mencoba, bergerak, dan menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Dalam permainan sederhana, mereka juga belajar bahwa tidak semua hal harus diukur dari posisi pertama. Memasukkan Bola ke Keranjang, Menguji Fokus dan Kesabaran Permainan berikutnya terlihat sederhana dari kejauhan, tetapi ternyata membutuhkan konsentrasi dan ketepatan. Anak-anak bergantian mencoba memasukkan bola ke dalam keranjang. Ada lemparan yang langsung berhasil. Ada pula yang meleset dan membuat mereka mencoba sekali lagi. Justru pada momen seperti itulah suasana menjadi semakin seru. Setiap kesempatan untuk mencoba kembali menghadirkan semangat baru. Tidak ada yang tahu apakah lemparan berikutnya akan berhasil, tetapi semua tetap ingin mencoba. Mungkin itulah salah satu pelajaran kecil yang muncul dari permainan: kegagalan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah usaha. Belajar Tentang Kemerdekaan dan Islam dengan Cara yang Menyenangkan  Keseruan belum berhenti. Anak-anak kemudian diajak menjawab pertanyaan seputar kemerdekaan Indonesia dan pengetahuan Islami. Antusiasme mereka terasa sejak pertanyaan mulai diajukan. Ada yang langsung mengangkat tangan dan menjawab dengan cepat. Ada pula jawaban spontan yang membuat suasana semakin hangat. Belajar ternyata tidak selalu harus berlangsung dalam suasana yang kaku. Ketika pengetahuan hadir di tengah permainan dan interaksi, anak-anak dapat terlibat dengan cara yang lebih alami. Mereka bukan hanya mendengar, tetapi juga berpikir, menjawab, dan berani menyampaikan apa yang mereka ketahui. Menyambut Maulid dengan Menghidupkan Nilai Kasih Sayang Kegiatan ini juga menjadi bagian dari ikhtiar menyambut bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bukan dengan menjadikan kebersamaan sebagai seremonial semata, tetapi dengan mencoba menghadirkan nilai kasih sayang dalam tindakan yang nyata. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 107 bahwa Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rahmat itu dapat dimaknai dan dihadirkan dalam banyak bentuk, termasuk melalui perhatian, kepedulian, dan kesediaan meluangkan waktu untuk sesama. Dalam konteks kegiatan ini, kebersamaan menjadi bagian dari cara untuk merasakan nilai tersebut. Bukan hanya tentang apa yang diberikan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah pertemuan dapat menghadirkan rasa dihargai dan ditemani. Kadang, yang Kita Berikan Justru Kembali kepada Kita Ada sebuah pengalaman yang sering muncul dalam kegiatan sosial. Kita datang dengan niat untuk menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Namun, tanpa disadari, justru kita sendiri yang pulang dengan hati yang terasa lebih hangat. Melihat anak-anak tertawa, berusaha menyelesaikan permainan, atau berani menjawab pertanyaan mungkin tampak sebagai hal sederhana. Tetapi momen-momen seperti itu dapat menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit. Sebuah permainan, hidangan sederhana, perhatian, dan waktu yang diluangkan bersama dapat menjadi kenangan yang bermakna. Karena pada akhirnya, manusia bukan hanya membutuhkan sesuatu untuk dimiliki. Kita juga membutuhkan pengalaman untuk dirasakan bersama. Kebersamaan yang Ingin Terus Dijaga Melalui kegiatan ini, Sedekah Barangku Ulurtangan.com berupaya menghadirkan ruang kebersamaan yang menyenangkan dan bermanfaat bagi anak-anak. Berbagai permainan dan perlombaan menjadi bagian dari sebuah hari yang diharapkan dapat meninggalkan senyum dan pengalaman baik. Kegiatan ini juga tidak akan berjalan tanpa keterlibatan relawan dan berbagai pihak yang telah meluangkan waktu, tenaga, serta perhatian. Setiap orang yang mengambil bagian ikut membentuk suasana yang membuat hari tersebut terasa hidup. Dalam sebuah kebaikan, tidak selalu ada peran yang terlalu kecil. Ada yang mendampingi anak-anak, menyiapkan kegiatan, membantu jalannya acara, atau sekadar hadir untuk memberikan semangat. Semua menjadi bagian dari cerita yang sama. Melanjutkan Semangat Kebaikan Setelah Perayaan Usai Kemerdekaan akan terus dikenang setiap tahun. Bulan Maulid juga akan kembali menyapa umat Islam dengan berbagai bentuk peringatan. Namun, mungkin pertanyaan

Semarak Kemerdekaan Indonesia dan Maulid Nabi: 23 Anak Yatim dan Dhuafa Rayakan Kebersamaan Penuh Makna

Semarak Kemerdekaan Indonesia dan Maulid Nabi: 23 Anak Yatim dan Dhuafa Rayakan Kebersamaan Penuh Makna 25 Agustus 2026 Bekasi BEKASI, (Ulurtangan.com) – Semarak Kemerdekaan Indonesia dan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gudang Sedekah Barang menghadirkan kebersamaan penuh keceriaan bagi 23 anak yatim dan dhuafa melalui permainan, lomba, dan edukasi Islami. Apa yang paling lama diingat seorang anak setelah sebuah acara selesai? Bukan selalu hadiah yang dibawa pulang. Bukan pula siapa yang memenangkan perlombaan. Kadang, yang justru tinggal lebih lama adalah perasaan sederhana: pernah tertawa bersama, pernah diberi kesempatan untuk mencoba, dan pernah merasa menjadi bagian dari sebuah kebersamaan. Pemikiran itulah yang terasa dalam kegiatan Semarak Kemerdekaan Indonesia dan Semarak Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan pada 25 Agustus 2026 di Gudang Sedekah Barang. Sebanyak 23 anak yatim dan dhuafa berkumpul untuk mengikuti berbagai kegiatan yang memadukan semangat kemerdekaan, kreativitas, permainan, serta pengetahuan Islami. Kegiatan yang dihadirkan oleh Sedekah Barangku Ulurtangan.com ini bukan sekadar tentang mengadakan perlombaan. Di balik tawa dan keseruan anak-anak, ada sebuah upaya sederhana untuk menghadirkan ruang bermain, belajar, dan bertumbuh bersama. Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia identik dengan berbagai perlombaan. Namun bagi anak-anak, perlombaan seringkali memiliki makna yang lebih sederhana daripada sekadar menjadi juara. Mereka belajar mencoba. Mereka belajar menunggu giliran. Mereka belajar menerima kemenangan dan kekalahan. Dan yang paling penting, mereka belajar bahwa menjadi bagian dari sebuah kegiatan bersama juga merupakan pengalaman yang menyenangkan. Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, sekaligus menyambut bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, kami menghadirkan kegiatan kebersamaan bagi 23 anak yatim dan dhuafa. Dua momentum tersebut dipertemukan dalam satu kegiatan: semangat kemerdekaan yang mengajarkan kebersamaan sebagai bangsa, serta semangat Maulid Nabi yang mengingatkan pentingnya akhlak, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama. Keseruan kegiatan dimulai dengan lomba menggambar. Anak-anak mulai menuangkan imajinasi mereka melalui warna dan goresan di atas kertas. Ada yang langsung menggambar dengan penuh keyakinan. Ada pula yang terlihat begitu fokus memikirkan apa yang ingin dituangkan dalam karyanya. Sesekali, beberapa anak melihat ke arah teman di sebelahnya, bukan untuk meniru, tetapi seolah mencari inspirasi sebelum kembali melanjutkan gambar masing-masing. Momen sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki cara sendiri untuk mengekspresikan dirinya. Tidak semua anak harus memiliki gambar yang sama. Tidak semua harus menggunakan warna yang sama. Justru dari perbedaan itulah kreativitas tumbuh. Di tengah kegiatan, yang terasa bukan hanya suasana kompetisi, tetapi juga kegembiraan karena mereka memiliki kesempatan untuk duduk bersama, berkarya, dan menikmati prosesnya. Setelah lomba menggambar, suasana berubah semakin ramai melalui lomba lari mengumpulkan bendera. Anak-anak berlari bolak-balik dengan penuh semangat untuk mengambil dan mengumpulkan bendera. Ada yang berlari sangat cepat, ada yang terlihat kelelahan tetapi tetap berusaha mencapai garis akhir. Di sinilah perlombaan sederhana bisa memberikan pengalaman yang tidak sederhana. Anak-anak belajar bahwa terkadang mereka harus mencoba lebih dari sekali. Ada saatnya langkah terasa cepat, ada pula ketika tenaga mulai berkurang. Namun mereka tetap diberi ruang untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai. Kami melihat bagaimana semangat mereka tidak selalu ditentukan oleh siapa yang akhirnya menjadi pemenang. Sebab pada hari itu, keberanian untuk ikut mencoba pun layak mendapatkan apresiasi. Keseruan berikutnya datang dari lomba memasukkan bola ke keranjang. Sekilas, permainan ini terlihat mudah. Namun ketika dilakukan, anak-anak harus menggunakan konsentrasi dan ketepatan. Bola tidak selalu langsung masuk. Ada yang harus mencoba beberapa kali sebelum berhasil. Justru dari situ terdengar berbagai reaksi spontan yang membuat suasana semakin hidup. Ada yang tertawa ketika lemparannya meleset. Ada yang semakin bersemangat setelah mencoba kembali. Ketika akhirnya berhasil, wajah bahagia mereka seakan menjadi hadiah tersendiri. Kegiatan seperti ini mengingatkan kami bahwa anak-anak tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit untuk merasa bahagia. Kadang, satu permainan sederhana, kesempatan untuk mencoba, dan orang-orang yang memberikan semangat sudah cukup untuk menciptakan hari yang berkesan. Kegiatan tidak berhenti pada permainan fisik. Anak-anak juga diajak mengikuti sesi tanya jawab seputar kemerdekaan Indonesia dan pengetahuan Islami. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan, kemudian dijawab dengan penuh antusias. Ada yang langsung mengangkat tangan. Ada yang menjawab dengan cepat. Ada pula jawaban spontan yang justru membuat suasana menjadi lebih hangat. Bagi kami, bagian ini menjadi salah satu momen yang menarik. Belajar tidak selalu harus berlangsung dalam suasana yang kaku. Ketika pengetahuan dikemas melalui interaksi dan permainan, anak-anak dapat menikmati prosesnya dengan cara yang lebih menyenangkan. Semangat tersebut juga sejalan dengan pesan Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya memberikan manfaat kepada sesama. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad) Melalui kegiatan sederhana ini, kami belajar bahwa menghadirkan manfaat tidak selalu harus dalam bentuk sesuatu yang besar. Meluangkan waktu, tenaga, perhatian, dan menghadirkan ruang kebersamaan juga dapat menjadi bagian dari kebaikan. Ada satu hal yang sering terlupakan dalam kegiatan sosial. Kita terkadang terlalu fokus pada apa yang diberikan kepada anak-anak, tetapi lupa bertanya: apakah mereka juga diberi kesempatan untuk menikmati masa kecil mereka? Kebutuhan anak tentu tidak hanya berkaitan dengan pendidikan atau kebutuhan sehari-hari. Mereka juga membutuhkan ruang untuk bermain, berekspresi, bergerak, tertawa, dan merasa diterima. Sudut pandang inilah yang menjadi salah satu makna dari kegiatan Semarak Kemerdekaan dan Maulid Nabi kali ini. Kami datang dengan niat menghadirkan kebahagiaan. Namun selama kegiatan berlangsung, kami justru menyadari bahwa tawa anak-anak tersebut ikut menghadirkan kebahagiaan bagi kami.Kadang, kebahagiaan memang tidak berjalan dalam satu arah. Ia datang kembali kepada orang yang meluangkan waktu untuk berbagi. Sebanyak 23 anak yatim dan dhuafa menjadi bagian dari kegiatan ini. Mereka datang dengan karakter, usia, dan cara berekspresi yang berbeda. Namun ketika kegiatan dimulai, perbedaan tersebut seolah melebur dalam satu suasana kebersamaan. Ada yang sangat aktif mengikuti lomba. Ada yang lebih tenang ketika menggambar. Ada yang berani menjawab pertanyaan. Ada pula yang awalnya terlihat malu, tetapi perlahan mulai ikut menikmati suasana. Setiap anak memiliki ceritanya sendiri dan mungkin, tidak semua cerita harus diceritakan melalui kata-kata. Kadang, senyum setelah berhasil memasukkan bola ke keranjang atau wajah serius saat menyelesaikan gambar sudah cukup untuk menunjukkan bahwa momen tersebut memiliki arti bagi mereka. Melalui kegiatan ini, Yayasan Indonesia Uluran Tangan bersama Sedekah Barangku Ulurtangan.com ingin terus menghadirkan kegiatan yang tidak hanya berfokus pada bantuan dalam bentuk barang. Kebaikan juga dapat hadir melalui pengalaman, melalui kesempatan, melalui

Maryam al-Ijliya: Perempuan Muslim yang Membaca Langit dengan Astrolabe

Maryam al-Ijliya: Perempuan Muslim yang Membaca Langit dengan Astrolabe 22 Agustus 2026 Dakwah/Inspiratif Mengenal Maryam al-Ijliya al-Asturlabi, perempuan Muslim abad ke-10 yang dikenal sebagai pembuat astrolabe di Aleppo dan jejaknya dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam. Ada sebuah ironi dalam sejarah ilmu pengetahuan: semakin jauh kita berjalan ke masa lalu, semakin sedikit nama perempuan yang muncul dalam catatan. Namun, sesekali sebuah nama berhasil menembus keterbatasan itu—bukan karena kisah hidupnya ditulis panjang, melainkan karena satu catatan pendek menyimpan bukti bahwa ia pernah bekerja di tengah dunia ilmu pengetahuan. Nama itu adalah al-‘Ijliyyah, perempuan pembuat astrolabe yang hidup di Aleppo pada abad ke-10. Dalam literatur modern ia kerap disebut Maryam al-Ijliya al-Asturlabi. Ia dikaitkan dengan pembuatan instrumen astronomi dan diketahui bekerja di lingkungan pemerintahan Sayf al-Dawla, penguasa Aleppo pada pertengahan abad ke-10. Yang menarik, sumber sejarah tentang dirinya sangat terbatas. Justru karena itu, kisahnya perlu diceritakan dengan hati-hati—bukan dengan menambahkan legenda, tetapi dengan membaca apa yang benar-benar tersisa dari sejarah.  Siapa Maryam al-ijliya al-Asturlabi? Nama yang paling dekat dengan sumber sejarah sebenarnya adalah al-‘Ijliyyah bint al-‘Ijliyy. Catatan utama mengenai dirinya berasal dari Kitab al-Fihrist, karya Ibn al-Nadim yang disusun pada akhir abad ke-10. Dalam bagian yang membahas pembuat instrumen ilmiah, Ibn al-Nadim menyebut al-‘Ijliyyah sebagai putri seorang pembuat astrolabe dan murid dari pembuat astrolabe bernama Nastulus. Ia juga mencatat keterkaitannya dengan Sayf al-Dawla.  Di sini terdapat satu fakta yang sering terlewat ketika kisahnya ditulis ulang. Nama “Maryam” tidak disebut dalam sumber sejarah utama yang mencatat kehidupannya. Nama Maryam atau Mariam al-Ijliya yang populer sekarang merupakan penyebutan modern, sementara sumber awal menyebutnya sebagai al-‘Ijliyyah. Bahkan istilah al-Asturlabi sendiri berkaitan dengan profesi pembuat astrolabe. Karena itu, artikel tentang dirinya sebaiknya membedakan antara fakta yang terdokumentasi dan nama yang berkembang dalam literatur modern.  Astrolabe: Teknologi yang Membantu Manusia Membaca Langit Untuk memahami mengapa pekerjaan al-‘Ijliyyah penting, kita perlu memahami terlebih dahulu benda yang dibuatnya. Astrolabe adalah instrumen astronomi yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai perhitungan terkait posisi benda langit dan waktu. Dalam peradaban Islam, instrumen ini berkembang menjadi alat penting dalam tradisi astronomi dan juga memiliki kegunaan praktis dalam kehidupan keagamaan dan perjalanan. Astrolabe dapat membantu penggunanya menentukan posisi Matahari dan bintang, memperkirakan waktu, serta melakukan perhitungan astronomi tertentu. Dalam konteks masyarakat Muslim, pengetahuan mengenai posisi Matahari juga berkaitan dengan penentuan waktu shalat, sementara perhitungan astronomi dapat membantu menentukan arah kiblat dan kebutuhan navigasi. Dengan demikian, astronomi pada masa itu bukan ilmu yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan sehari-hari. Yang menarik, astrolabe bukan sekadar benda logam dengan bentuk rumit. Di baliknya terdapat perpaduan antara matematika, astronomi, keterampilan membuat instrumen, dan ketelitian teknis. Membuat instrumen semacam itu membutuhkan pemahaman dan keterampilan yang tidak sederhana. Karena itulah, keberadaan seorang perempuan dalam tradisi pembuatan astrolabe pada abad ke-10 menjadi bagian menarik dari sejarah ilmu pengetahuan. Belajar dari Keluarga, Lalu Masuk ke Dunia Keahlian Catatan Ibn al-Nadim memberikan petunjuk bahwa al-‘Ijliyyah berasal dari keluarga pembuat astrolabe. Ayahnya juga seorang pembuat instrumen tersebut dan disebut sebagai murid Nastulus. Al-‘Ijliyyah sendiri disebut sebagai murid dari tokoh yang sama. Artinya, terdapat sebuah lingkungan pembelajaran dan keterampilan yang memungkinkan pengetahuan teknis diwariskan melalui hubungan guru, murid, dan keluarga.  Hal ini memberikan sudut pandang yang menarik tentang bagaimana ilmu berkembang pada masa lalu. Pengetahuan tidak selalu berpindah melalui ruang kelas seperti yang kita kenal sekarang. Sebagian keahlian tumbuh melalui praktik langsung, pengamatan, bimbingan seorang ahli, dan keterlibatan dalam suatu komunitas profesi. Dalam kasus al-‘Ijliyyah, sejarah meninggalkan jejak bahwa seorang perempuan menjadi bagian dari tradisi keahlian tersebut. Bekerja di Lingkungan Sayf al-Dawla Al-‘Ijliyyah juga dikaitkan dengan lingkungan Sayf al-Dawla, penguasa Hamdanid yang memerintah Aleppo pada pertengahan abad ke-10. Sayf al-Dawla dikenal sebagai patron ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sehingga Aleppo pada masa pemerintahannya menjadi salah satu lingkungan intelektual yang penting. Sumber modern yang mengkaji Fihrist menempatkan al-‘Ijliyyah dalam konteks komunitas pembuat instrumen dan lingkungan keilmuan tersebut. Namun, ada satu hal yang perlu dijaga: kita tidak memiliki cukup sumber untuk menceritakan secara rinci kehidupan sehari-harinya, metode kerjanya, atau seluruh inovasi yang pernah dibuatnya. Tidak ada karya astrolabe yang dapat dipastikan masih bertahan dan dapat diidentifikasi sebagai buatannya. Karena itu, klaim populer bahwa setiap astrolabe buatannya memiliki desain tertentu atau bahwa ia adalah “penemu astrolabe” perlu diperlakukan dengan hati-hati. Yang dapat kita katakan dengan lebih aman adalah bahwa sumber sejarah mencatatnya sebagai perempuan yang mempelajari dan membuat astrolabe dalam lingkungan keilmuan Aleppo. Mengapa Kisahnya Penting bagi Sejarah Perempuan dan Ilmu Pengetahuan? Justru keterbatasan sumber itulah yang membuat kisah al-‘Ijliyyah menarik. Ia tidak meninggalkan autobiografi panjang, buku terkenal, atau koleksi karya yang mudah ditelusuri. Namanya hanya muncul singkat dalam sebuah katalog keilmuan. Tetapi satu kalimat tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa perempuan dapat ditemukan dalam sejarah pembuatan instrumen ilmiah di dunia Islam abad pertengahan. Buku Women in the History of Science: A Sourcebook bahkan menggunakan catatan tentang al-‘Ijliyyah sebagai salah satu sumber untuk mengkaji keberadaan perempuan dalam sejarah ilmu pengetahuan.  Kisah ini juga mengingatkan kita agar tidak mengukur kontribusi seseorang hanya dari seberapa banyak informasi yang berhasil bertahan dalam sejarah. Banyak orang dari masa lalu mungkin hanya meninggalkan satu nama atau satu catatan pendek. Bagi sejarah, satu catatan dapat menjadi fragmen kecil. Bagi generasi sekarang, fragmen itu dapat membuka pertanyaan besar: berapa banyak perempuan lain yang pernah belajar, bekerja, dan menghasilkan pengetahuan tetapi namanya tidak sampai kepada kita? Ilmu dalam Islam Bukan Sekadar Hafalan Semangat menuntut ilmu memiliki kedudukan penting dalam tradisi Islam. Wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW dimulai dengan perintah “Iqra’”, yang secara umum diterjemahkan sebagai “bacalah” dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5. Ayat-ayat tersebut juga menyebut pena dan pengajaran sebagai bagian dari nikmat Allah kepada manusia. Karena itu, kisah ilmuwan dan pengrajin instrumen seperti al-‘Ijliyyah dapat dibaca sebagai bagian dari sejarah panjang masyarakat Muslim yang mengembangkan berbagai bentuk pengetahuan. Tentu kita tidak perlu memaksakan bahwa setiap aktivitas ilmiah masa lalu secara langsung merupakan “penerapan” satu ayat tertentu. Namun, tradisi keilmuan tersebut menunjukkan bahwa ilmu, keterampilan, pengamatan, dan kemampuan menghasilkan teknologi memiliki tempat dalam peradaban Islam. Dari Astrolabe ke Dunia yang Dipenuhi Teknologi Hari ini kita menggunakan GPS, aplikasi peta digital, jam atom, teleskop, dan berbagai perangkat yang mampu melakukan

Ulurtangan Tunaikan 30 Mushaf Wakaf Al-Qur’an untuk Santri Pengajian di Cikupa, Tangerang

Ulurtangan Tunaikan 30 Mushaf Wakaf Al-Qur’an untuk Santri Pengajian di Cikupa, Tangerang 08 Agustus 2026 Tanggerang TANGGERANG, (Ulurtangan.com) – Apa yang terjadi setelah sebuah Al-Qur’an diberikan?. Bagi sebagian orang, mungkin jawabannya sederhana: bantuan telah disalurkan dan kegiatan selesai. Namun, bagi para santri yang setiap hari datang untuk belajar mengaji, sebuah mushaf bisa menjadi bagian dari rutinitas yang jauh lebih panjang. Mushaf itu dibuka, dibaca bersama, digunakan untuk memperbaiki bacaan, menghafal ayat demi ayat, hingga memahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Alhamdulillah, pada 8 Agustus 2026, Ulurtangan menyalurkanamanah  30 Mushaf Wakaf Al-Qur’an kepada para santri pengajian di Cikupa, Tangerang. Penyaluran dilakukan dalam satu lokasi pengajian, tempat para santri berkumpul untuk belajar dan mendalami Al-Qur’an. Sebanyak 30 mushaf diserahkan kepada sekitar 30 santri, sebagai bentuk dukungan agar mereka memiliki sarana yang dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengaji. Jika dilihat sekilas, kegiatan ini mungkin hanya tampak sebagai penyerahan 30 mushaf. Namun, ada hal yang lebih besar di baliknya. Al-Qur’an bukan hanya dibaca sekali lalu disimpan. Di tempat pengajian, satu mushaf dapat menjadi teman dalam proses belajar yang dilakukan berulang kali. Halaman yang sama mungkin dibaca hari ini, kemudian diulang kembali esok hari. Satu ayat bisa menjadi bahan hafalan selama berhari-hari. Di sinilah sebuah wakaf memiliki makna yang berbeda. Nilai sebuah mushaf tidak hanya terletak pada saat ia diberikan, tetapi juga pada manfaat yang diharapkan terus hadir setelahnya. Para santri yang menerima bantuan ini merupakan bagian dari kegiatan pengajian di Cikupa. Mereka berkumpul dalam satu majelis untuk belajar membaca dan mendalami kalam Allah SWT. Dengan adanya tambahan mushaf Al-Qur’an, kegiatan belajar diharapkan dapat berlangsung dengan lebih baik. Dalam kegiatan tersebut, tim Yayasan Indonesia Uluran Tangan membawa amanah dari para donatur untuk disampaikan langsung kepada para penerima manfaat. Sebanyak 30 mushaf Al-Qur’an disalurkan kepada sekitar 30 santri pengajian di Cikupa, Tangerang. Penyaluran dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung kegiatan pendidikan dan pembelajaran Al-Qur’an. Momen penyerahan bantuan berlangsung di tempat para santri biasa berkumpul dan mengaji. Justru dari satu tempat sederhana itulah, harapan tentang keberlanjutan manfaat wakaf Al-Qur’an tumbuh. Salah seorang perwakilan penerima manfaat menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang telah diberikan. “Alhamdulillah, pada malam hari ini kami mendapat bantuan berupa donasi Al-Qur’an dari Yayasan Indonesia Uluran Tangan. Terima kasih, kami mendapat bantuan 30 donasi Al-Qur’an. Mudah-mudahan Ulur Tangan dan donatur mendapatkan keberkahan, kelancaran rezeki, dan keberkahan dari Allah SWT. Terima kasih yang sebanyak-banyaknya.” Ucapan sederhana tersebut menjadi bentuk rasa syukur sekaligus doa bagi para Sahabat Kebaikan yang telah ikut mengambil bagian. Ada perbedaan antara memberikan sesuatu yang selesai digunakan dalam sehari dengan memberikan sesuatu yang dapat digunakan berulang kali. Sebuah paket makanan, misalnya, dapat membantu memenuhi kebutuhan pada hari itu. Sementara mushaf Al-Qur’an memiliki fungsi yang berbeda. Ia dapat terus digunakan sebagai sarana membaca, belajar, menghafal, dan mengajarkan Al-Qur’an. Karena itu, wakaf Al-Qur’an tidak selalu harus dilihat dari jumlah mushaf semata. Yang juga penting adalah bagaimana mushaf tersebut dapat digunakan dan memberi manfaat bagi penerimanya. Bagi seorang santri, memiliki akses terhadap mushaf yang layak dapat mendukung proses belajarnya. Dari huruf demi huruf yang dipelajari, bacaan yang diperbaiki, hingga ayat yang perlahan dihafalkan. Tidak semua hasil dari proses itu dapat terlihat dalam satu hari. Tetapi pendidikan memang sering kali bekerja dalam diam. Apa yang dipelajari hari ini bisa menjadi kebiasaan di masa depan. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim) Hadis tersebut mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menghadirkan kebaikan yang manfaatnya dapat terus dirasakan. Wakaf Al-Qur’an dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk menghadirkan manfaat tersebut. Ketika mushaf digunakan untuk membaca dan belajar, kita berharap bantuan yang diberikan tidak berhenti pada momen penyerahan. Tentu hanya Allah SWT yang mengetahui dan menentukan pahala setiap amal. Namun sebagai manusia, kita dapat terus berusaha melakukan kebaikan dan berharap agar setiap ikhtiar tersebut diterima serta memberikan manfaat bagi orang lain. Kegiatan di Cikupa ini juga mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, sebuah kegiatan belajar dapat terus berlangsung karena tersedia sarana yang memadai. Sebuah mushaf yang tersedia di hadapan santri dapat menjadi bagian dari proses mereka mengenal Al-Qur’an lebih dekat. Hari ini mereka mungkin belajar membaca satu halaman. Besok, mereka mengulanginya kembali. Sebagian mungkin mulai menghafal. Sebagian lainnya masih belajar mengenali tajwid dan memperbaiki bacaan. Semua proses tersebut membutuhkan waktu. Karena itu, ketika 30 mushaf disalurkan kepada para santri di satu tempat pengajian ini, yang diharapkan bukan hanya selesainya kegiatan distribusi. Lebih dari itu, semoga mushaf-mushaf tersebut benar-benar digunakan dan menjadi bagian dari perjalanan belajar mereka. Alhamdulillah, penyaluran wakaf Al-Qur’an ini dapat terlaksana berkat dukungan para donatur dan Sahabat Kebaikan yang telah mempercayakan sebagian rezekinya melalui Yayasan Indonesia Uluran Tangan. Bagi tim relawan, proses penyaluran bukan sekadar menyerahkan bantuan. Ada amanah yang harus dijaga hingga sampai kepada penerima manfaat. Sebanyak 30 mushaf kini telah berada di tempat pengajian di Cikupa, Tangerang, dan siap digunakan oleh para santri dalam kegiatan belajar mereka. Semoga bantuan tersebut memberikan manfaat dan semakin menguatkan semangat mereka untuk membaca, mempelajari, menghafal, serta mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. —– 🏩 Yayasan Indonesia Uluran TanganLayanan Umat l Donasi Dakwah l Zakat | Infaq l Shodaqoh l Sosial Fisabililllah 📡 Saluran Whatsapp 🖥️ Facebook 📷 Instagram 💽 Youtube 📱 Info & Konfirmasi:╰┈➤ 0821.4000.4011 – 0811.50.5000.70 Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Ulurtangan.com (@ulurtangancom)